cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Jakarta(MedanPunya) Badan Pusat Stastistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III-2019 sebesar 5,02% year on year (yoy). Angka ini turun drastis dari kuartal II-2018 sebesar 5,17% dan pada kuartal II-2019 sebesar 5,05%.

Melihat hal ini, Direktur Eksekutif INDEF Eny Srihartati mengaku sudah memprediksi. Ia mengaku tidak kaget dengan hasil yang diumumkan BPS.

"Kita jauh-jauh hari sudah warning memang kemungkinan besar triwulan III dan IV terus menurun dari kondisi triwulan I dan II kemarin, dan ternyata benar. Kita sih nggak kaget kalo tumbuhnya di bawah triwulan II," kata Eny, Selasa (5/11).

Menurutnya, penyebab menurunnya pertumbuhan ekonomi sudah jelas, dikarenakan beberapa sektor produksi sedang mengalami penurunan. Seperti penjualan retail, hingga impor bahan baku yang menurun.

"Indikatornya kan sudah jelas, beberapa sektor produksi mengalami penurunan. Penjualan retail sampai dengan Oktober kemarin juga sudah turun terus, itu sudah menjadi indikator. Termasuk juga impor bahan baku yang menurun," ungkap Eny.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah. Menurutnya, penurunan pertumbuhan ekonomi sangat tidak baik, mengingat target pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi adalah 5,2%.

Untuk itu, Pieter berharap pemerintah melakukan sesuatu guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Ini menjadi warning bahwa pemerintah harus melakukan sesuatu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi," imbuh Pieter.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 175 kali