cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...
cache/resized/f86de64f77ac713dca1ea98db290abda.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut buka suara terkait banyaknya ...

Jakarta(MedanPunya) Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih saja melemah. Faktor domestik dan eksternal memang sedang kurang suportif, bukan hanya buat rupiah tetapi juga mata uang Asia lainnya.

Pada Rabu (6/11) pukul 13:25 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.003. Rupiah melemah 0,27% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Kala pembukaan pasar, rupiah memang melemah tetapi tipis saja di 0,07%. Selepas itu depresiasi rupiah semakin dalam dan dolar AS berhasil menembus level psikologis Rp 14.000.

Dari dalam negeri, sepertinya rupiah terimbas aksi ambil untung karena penguatannya yang sudah signifikan akhir-akhir ini. Dalam sebulan terakhir, rupiah menguat 1,07% terhadap dolar AS.

Selama tiga bulan ke belakang, apresiasi rupiah mencapai 1,8%. Kalau dihitung sejak awal tahun, maka penguatan rupiah tercatat 2,59%.

Ditambah lagi efek rilis data pertumbuhan ekonomi sudah memudar. Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia periode Juli-September 2019 tumbuh 5,02% year-on-year (YoY). Sejalan dengan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia, tetapi sedikit lebih baik ketimbang konsensus dari Reuters dan Bloomberg yaitu 5,01% dan 5%.

Realisasi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari proyeksi dua kantor berita besar tersebut membuat investor berani masuk ke pasar keuangan Indonesia. Kemarin, investor asing mencatatkan beli bersih Rp 10,48 miliar di pasar reguler dan mengantar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,36%.

Kemudian kala lelang obligasi pemerintah, penawaran yang masuk mencapai Rp 67,97 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah mengambil Rp 24,25 triliun, lebih tinggi dibandingkan target indikatif Rp 15 triliun.

Namun ternyata sentimen positif dari data pertumbuhan ekonomi hanya bertahan sehari. Sekarang rupiah sudah tergilas oleh profit taking.

Tampaknya hal serupa juga dialami oleh mata uang Asia lainnya. Siang ini, mayoritas mata uang utama Benua Kuning melemah di hadapan dolar AS. Hanya yen Jepang, yuan China, dolar Singapura, dan dolar Taiwan yang mampu menguat.

Sama seperti rupiah, berbagai mata uang Asia juga sudah menguat lumayan tajam terhadap dolar AS. Contoh, won Korea Selatan menguat 3,35% selama sebulan terakhir. Dalam periode yang sama, ringgit Malaysia menguat 1,31% sementara baht Thailand menguat 0,62%.

Jadi, godaan profit taking memang sedang menghantui Asia. Tidak heran mata uang berbagai negara kompak berjalan di jalur merah.

Selain itu, investor juga terus menanti kejelasan kesepakatan damai dagang AS-China fase I. Mengutip Financial Times, salah satu poin dalam kesepakatan tersebut adalah AS menghapus rencana pengenaan bea masuk untuk importasi produk China senilai US$ 156 miliar yang sedianya berlaku 15 Desember.

Namun, China meminta AS untuk menghapus lebih banyak lagi bea masuk. China mendorong agar AS menghapus bea masuk 15% bagi impor produk mereka senilai US$ 125 miliar yang belaku September lalu.

Seorang sumber yang dekat dekat tim negosiator China mengungkapkan Beijing ingin agar AS menghapus seluruh bea masuk secepatnya. Namun pernyataan resmi dari pemerintah China masih normatif saja.

"Pembicaraan dengan AS terus menunjukkan kemajuan dan sesuai dengan rencana. Pengenaan bea masuk bukan langkah terbaik untuk menyelesaikan isu perdagangan," kata Geng Shuang, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti diberitakan Reuters.

Kini pelaku pasar menantikan kepastian kapan perjanjian damai dagang fase I akan diteken, yang katanya bisa bulan ini. Sebelum ada hitam di atas putih, maka berbagai spekulasi masih akan berseliweran dan menambah ketidakpastian. Ini yang membuat investor memasang mode wait and see sehingga arus modal belum banyak mengalir ke negara berkembang Asia.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 23 kali