cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

New York(MedanPunya) Amerika Serikat yang sedang terlibat perang dagang dengan China, memilih untuk impor dari negara Vietnam sebagai pengganti China. Menurut IHS Markit, dalam sembilan bulan pertama tahun ini, impor AS dari Vietnam melonjak 34,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year).

Sebagai perbandingan, impor AS dari China menyusut 13,4 persen YoY pada periode Januari-September.

Direktur Asosiasi IHS Markit Michael Ryan menyebutkan, masalah tarif menjadi alasan utama di balik penurunan impor AS dari China.

Dia menambahkan kategori ekspor Vietnam yang paling cepat berkembang di AS adalah komputer, peralatan telepon, dan mesin lainnya. Produk-produk itu termasuk di antara impor utama AS dari daratan China, Mongolia, dan Taiwan pada 2018.

Vietnam sering disebut sebagai salah satu pihak yang paling diuntungkan dari perang perdagangan karena peningkatan ekspornya ke AS. Selain itu, negara Asia Tenggara telah melihat lonjakan investasi asing langsung dari produsen yang ingin menghindari kenaikan tarif antara AS dan China.

Tetapi AS belum berinvestasi di Vietnam secara besar-besaran, kata Ryan. Dia menunjukkan bahwa investasi Amerika ke Vietnam hanya menyumbang 2,7 persen dari total Foreign Direct Investment yang diterima negara itu.

Salah satu alasannya adalah AS tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Vietnam dan ASEAN.

"Tapi itu hanya salah satu dari banyak faktor yang menghambat laju dan besarnya diversifikasi rantai pasokan ke Vietnam," kata Ryan.

Menurut Ryan, Vietnam juga memiliki permasalahan kekurangan tenaga kerja terampil. Hal ini menjadi permasalahan padahal banyak perusahaan multinasional yang ingin memindahkan berbagai rantai pasokan manufaktur mereka ke luar China.

"Sederhananya, permintaan melebihi kemampuan pasokan saat ini," katanya.

Selain itu, Ryan juga menyebut bahwa infrastruktur di Vietnam belum memenuhi standar bagi banyak perusahaan internasional untuk mendirikan pabrik.

Secara khusus lanjut dia, itu berarti menemukan mitra bisnis lokal dan memenuhi persyaratan pemerintah untuk mendapatkan izin dapat menjadi hambatan utama bagi perusahaan asing.

"Jika digabungkan, faktor-faktor ini memperpanjang siklus pengiriman ke konsumen dan menunjukkan proses berlarut-larut dari operasi pelepasan dari orbit China," kata Ryan.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 35 kali