cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...
cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...

New York(MedanPunya) Harga minyak mengalami lonjakan hingga 4 persen pada perdagangan Jumat (4/1) menyusul konfirmasi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat ( AS) mengenai tewasnya pimpinan militer Iran akibat serangan AS ke Baghdad.

Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan ketegangan konflik antara kedua negara yang bisa memengaruhi kinerja produksi energi di kawasan tersebut. Pihak Kementerian Pertahanan pun mengatakan, serangan tersebut merupakan tindakan tegas yang diambil untuk melindungi personil AS di luar negeri.

Dalam keterangan tertulis tersebut juga dikatakan, serangan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Harga minyak mentah acuan Brent naik 1,88 dollar AS atau 2,8 persen pada perdagangan awal ke level 69,5 dollar AS.

Sementara harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate meningkat 1,45 dollar AS atau 2,4 persen menjadi 62,63 dollar AS per barrel.

Adapun pada sesi perdagangan awal WTI menyentuh 64,09 dollar AS atau level tertinggi sejak April 2019 lalu.

Serangan tersebut juga berpotensi menimbulkan aksi balasan oleh Iran. Senior Global Analyst Matthew Bey mengatakan, ada kemungkinan Iran akan menyerang balik infrastruktur produksi minyak di kawasan Teluk Persia dan kawasan lain di Timur Tengah.

Selain itu, Iran juga kemungkinan akan menyerang infrastruktur produksi minyak Arab Saudi jika ketegangan kian meningkat.

Serangan AS ke Baghdad terjadi setelah serangan Malam Tahun Baru oleh milisi yang didukung Iran ke Kedutaan Besar AS di Baghdad. Serangan kedutaan dua hari yang berakhir Rabu (1/1) mendorong Presiden Donald Trump untuk memerintahkan sekitar 750 tentara AS yang dikerahkan ke Timur Tengah.


Serangan udara tersebut pun terjadi menyusul setelah sebelumnya terjadi lonjakan harga minyak di kuartal keempat 2019 yang membuat OPEC+ mengumumkan pengurangan produksi lebih dalam dari yang diperkirakan pada bulan Desember, sebelumnya juga sempat terjadi serangan serangan drone di fasilitas minyak Abqaiq Arab Saudi dan Khurais yang mengguncang pasar internasional. Setelah serangan September itu, WTI dan Brent keduanya melonjak 8 persen.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 33 kali