cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...
cache/resized/2b2c034cf620b2a0f357c14287c0a073.jpg
Washington(MedanPunya) Otoritas Amerika Serikat (AS) resmi mendakwa Presiden Venezuela, Nicolas ...
cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...

Jakarta(MedanPunya) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan pada September 2019 sebesar 9,22%. Angka ini menurun 0,19% dibandingkan periode Maret 2019.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan persentase ini setara dengan 24,79 juta orang.

"Jadi September 2019 ini persentase kemiskinan kalau dibanding Maret 2019 ada penurunan sekitar 358,9 ribu," kata Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/1).

Sementara itu berdasarkan tempat tinggal, pada periode Maret 2019 - September 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebesar 137 orang, sedangkan di daerah perdesaan turun sebesar 221,8 ribu orang.

Persentase kemiskinan di perkotaan turun dari 6,69% menjadi 6,56%. Kemudian di perdesaan turun dari 12,85% menjadi 12,6%.

Suhariyanto mengungkapkan secara umum periode 2006-September 2019 tingkat kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan, baik dari sisi jumlah maupun persentase, perkecualian pada September 2013 dan Maret 2015.

Dia menjelaskan kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin para periode tersebut dipicu oleh kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai akibat dari kenaikan harga bahan bakar minyak.

Suhariyanto menjelaskan untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

"Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur menurut garis kemiskinan (makanan dan bukan makanan)," ujarnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 89 kali