cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Jakarta(MedanPunya) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia mengalami defisit sebesar 3,2 miliar dollar AS sepanjang tahun 2019. Defisit ini jauh lebih kecil dibanding periode yang sama pada tahun 2018, yakni sebesar 8,6 miliar dollar AS.

Meski mengalami penurunan, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah menilai, seharusnya neraca dagang RI mengalami surplus.

"Sebenarnya neraca dagang kita nomalnya adalah surplus," ujar dia, Kamis (16/1).

Menurut Pieter, defisit neraca dagang terjadi akibat adanya pelemahan harga komoditas sepanjang tahun lalu. Sementara sampai saat ini komoditas masih menjadi andalan ekspor nasional.

Dia menjelaskan, mengecilnya defisit pada tahun 2019 dibandingkan tahun 2018 karena melambatnya pertumbuhan impor nasional. Kendati demikian, realisasi ekspor sepanjang tahun lalu juga mengalami perlambatan pertumbuhan.

"Tetapi (pertumbuhan) impor masih lebih besar daripada ekspor. Dengan demikian defisitnya masih terjadi dan cukup besar," ujar Pieter.

Tahun ini dia memproyeksikan neraca dagang Indonesia mengalami perbaikan dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini didorong dengan meningkatnya beberapa harga komoditas ekspor unggulan nasional.

"Surplus akan terjadi ketika harga komoditas membaik," kata Pieter.

Dia menyebutkan, harga beberapa komoditas nasional mulai menunjukan adanya peningkatan.

Seperti harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang beberapa waktu ke belakang berada di level tertinggi selama dua tahun terakhir.

Meskipun saat ini harga CPO tengah dihadapi berbagai sentimen seperti boikot CPO Malaysia oleh India, namun pergerakan harga diproyeksi masih akan positif ke depan.

Selain itu, harga batu bara juga mengalami pergerakan signifikan dalam beberapa waktu kebelakang. Bahkan pada sesi perdagangan Jumat (10/1) harga batu bara sempat melesat 5,64 persen ke level 75,85 dollar AS per ton.

Melihat pergerakan-pergerakan harga yang positif tersebut, neraca dagang Indonesia pada tahun ini diproyeksi akan mengalami perbaikan.

"Jadi ada harapan tahun 2020 neraca perdagangan akan lebih baik," ucap Pieter.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia mengalami defisit sebesar 3,2 miliar dollar AS sepanjang tahun 2019.

Realisasi ekspor sepanjang 2019 sebesar 167,53 miliar dollar AS. Sementara untuk realisasi impor mencapai 170,72 miliar dollar AS.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 42 kali