cache/resized/89223fafb7193a09af541cb2610486b2.jpg
Jakarta(MedanPunya) Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2020 ...
cache/resized/9e51edb2fb71b473d38ba9a7a712fc12.jpg
Washington(MedanPunya) Pemerintah Amerika Serikat tengah menyelidiki intensif apakah virus Corona ...
cache/resized/9a84fa7c035130d22fadbbf8666b577e.jpg
Medan(MedanPunya) Kapolda Sumatera Utara (Sumut) Irjen Martuani Sormin meminta semua pihak mematuhi ...

Washington(MedanPunya) Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan proyeksi perekonomian terbarunya menyatakan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang masuk dalam ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam) akan cenderung terjaga tahun ini, setelah melambat di kisaran 4,7 persen tahun 2019 lalu.

IMF pun sempat menurunkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia dan Thailand lantaran kinerja ekspor yang diproyeksi juga berpengaruh terhadap permintaan domestik.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi global tahun ini diproyeksi sebesar 3,3 persen. Sementara untuk tahun 2019 dan 2021 masing-masing sebesar 2,9 persen dan 3,4 persen.

Jika dibandingkan dengan proyeksi yang dilakukan IMF pada Oktober lalu, angka proyeksi tersebut lebih rendah 0,1 persen untuk tahun 2020 dan 0,2 persen lebih rendah untuk tahun 2021.

"Perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat untuk India menyumbang sebagian besar terhadap revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi," jelas ekonom IMF Gita Gopinath.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang kawasan Asia akan meningkat tipis dari 5,6 persen di 2020 menjadi 5,8 persen di 2020 damn 5,9 persen di 2021.

Meski masing-masing proyeksi tersebut lebih rendah dari prediksi Oktober 2019 lalu di mana tahun 2019 diperkirakan akan tumbuh 5,8 persen dan 6,1 persen untuk 2020.

Secara lebih rinci, perekonomian India diperkirakan akan tumbuh 4,8 persen tahun 2019 dan akan membaik tahun 2020 menjadi 5,8 persen di 2020 dan 6,5 persen di 2021. Gita menjelaskan, proyeksi tersebut lebih rendah masing-masing 1,2 persen dan 0,9 persen dari tahhun lalu.

"Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia sebagian besar mencerminkan revisi ke bawah untuk proyeksi India, di mana permintaan domestik telah melambat lebih tajam dari yang diharapkan di tengah tekanan di sektor keuangan non-bank dan penurunan pertumbuhan kredit," jelas Gita.

Sementara itu, perekonomian China diperkirakan akan tumbuh melambat dari 6,1 persen menjadi 6 persen di 2020 dan 5,8 persen di 2021. Perlambatan terjadi akibat dampak dari tarif serta waktu jeda kenaikan tarif tambahan.

Namun demikian, kesepakatan perdagangan tahap satu dengan Amerika Serilkat kemungkinan akan mengurangi perlemahan dalam jangka pendek. Sebab, proyeksi pertumbuhan ekonomi China di 2020 meningkat 0,2 persen jika dibandingkan dengan prediksi tahun sebelumnya.

"Namun, perselisihan yang belum terselesaikan pada hubungan ekonomi AS-Cina yang lebih luas serta penguatan regulasi keuangan domestik yang diperlukan diperkirakan akan terus membebani aktivitas perekonomian di Beijing," jelas Gita.***kps/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 115 kali