cache/resized/8d4edbde1ebff7088c248583bb3e1899.jpg
Jakarta(MedanPunya) Niat calon jemaah haji 2020 untuk melaksanakan rukun islam kelima itu tahun ini ...
cache/resized/e9a998cef8693c549e26f2f21d9701fd.jpg
Washington(MedanPunya) Para pemuka agama Kristen di Amerika Serikat mengungkapkan kemarahan mereka ...
cache/resized/1a5b814444b68f4e3bcd007b5f81a218.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan pemerintah memutuskan tidak ...

Jakarta(MedanPunya) Harga minyak tercatat kembali melonjak. Kali ini kenaikannya lebih dari US$ 1 per barel, menjadi level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Kenaikan kembali harga minyak ini didukung oleh penurunan produksi minyak mentah yang berkelanjutan.

Selain itu, beberapa negara sudah mulai terlihat pulih dari virus Corona, dan memicu kenaikan bertahap pada permintaan bahan bakar. Pasalnya, negara-negara yang mulai pulih ini mulai mengurangi pembatasan aktivitas sosial karena Corona.

Harga minyak mentah di Amerika Serikat (AS) tercatat meningkat. Minyak mentah jenis Brent LCOc1 naik US$ 1,19 atau berkisar 3,7% dari harga sebelumnya. Kini menjadi US$ 33,69 per barel.

Kemudian, minyak mentah West Texas CLc1 naik US$ 1,26 atau berkisar 4,3% dari harga sebelumnya. Kini harganya menjadi US$ 30,69 per barel. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 9 minggu sejak 16 Maret.

Kenaikan ini juga diperkuat dengan tren perusahaan-perusahaan energi di AS menurunkan produksinya. Mereka dilaporkan mulai memangkas jumlah rig atau bor minyak dan gas bumi yang beroperasi, bahkan hingga ke level paling rendah sepanjang masa.

Iklim positif ini juga diperkuat ketika Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve Jerome Powell mengeluarkan pandangan optimis untuk pemulihan ekonomi akhir tahun ini.

"Dengan asumsi tidak ada gelombang kedua dari virus Corona, saya pikir Anda akan melihat perekonomian pulih terus pada paruh kedua tahun ini," kata Powell.

Pengurangan produksi juga dilakukan secara global. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia telah sepakat menekan produksi minyak.

Arab Saudi saja telah mengumumkan pekan lalu bahwa mereka akan memotong kembali produksi hingga 1 juta barel per hari pada Juni. Bersama Kuwait, mereka telah sepakat untuk menghentikan produksi minyak dari lapangan migas bersama Al-Khafji selama satu bulan yang akan dimulai pada 1 Juni.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 54 kali