cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...
cache/resized/68a55234bdb2786d58de1973a2ca422d.jpg
Washington(MedanPunya) Presiden AS Donald Trump kembali memuji kerja pasukan AS dalam memerangi ...

Pekanbaru(MedanPunya) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) berharap Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru menangguhkan penahanan tiga anggota mereka. Sebab, ketiga terdakwa merupakan dokter subspesialis yang keahliannya sangat dibutuhkan pasien.

Ketua IDI Pusat Daeng Muhammad Faqih mengatakan dirinya dan sejumlah asosiasi profesi dokter siap menjadi penjamin atas permohonan penangguhan menjadi tahanan kota itu.

"Semua yang mengajukan permohonan siap (menjadi penjamin)," katanya.

Menurut Daeng, penangguhan penahanan ketiga sejawat mereka yang kini berhadapan dengan meja hijau, masing-masing dr Welli Zulfikar, dr Kuswan Ambar Pamungkas, dan drg Masrial, telah disampaikan ke majelis hakim.

Surat permohonan penangguhan itu disampaikan langsung ketiga terdakwa seusai sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pekanbaru, Selasa petang kemarin (18/12).

Ia menjelaskan penangguhan untuk kemudian menjadi tahanan kota itu penting dilakukan karena ketiga terdakwa merupakan dokter subspesialis dan keberadaan mereka sangat dibutuhkan masyarakat.

"Ketiga dokter ini bukan spesialis, tapi subspesialis. Keahliannya langka dan dibutuhkan dalam pelayanan. Kami mohon penangguhan supaya pelayanan di rumah sakit tidak terganggu," jelasnya.

Sementara itu, saat disinggung perkara yang menimpa ketiga terdakwa, Daeng menjelaskan sejawatnya tersebut bekerja secara profesional dan mengedepankan etika, yakni kebutuhan pasien.

"Kami melihat apa yang dikerjakan kawan kami bentuk untuk memberikan tanggung jawab layanan. Di situ ada kebutuhan pelayanan. Kalau dokter itu secara profesional dan etika, satu hal yang penting. Kebutuhan pasien didahulukan," jelasnya.

Dengan demikian, ia mengatakan tidak mungkin sejawatnya itu harus menunggu tender untuk pengadaan alat kesehatan, sedangkan pasien sangat membutuhkan penanganan medis secepatnya.

"Untuk menolong pasien, tidak bisa kita mengatakan menunggu pengadaan. Tidak sama dengan pelayanan lain karena penanganan dokter itu harus segera dan kebanyakan dalam situasi darurat," lanjutnya.

Untuk itu, dia berharap perkara yang menimpa ketiga dokter yang bertugas di RSUD Arifin Achmad tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga mereka mendapat keadilan.

Ketua majelis hakim Saut Martua Pasaribu sebelumnya menyatakan masih mempertimbangkan pemberian penangguhan penahanan tersebut.

"Akan kami pelajari (surat permohonan penangguhan). Dengan diajukan ini bukan berarti bisa dikabulkan. Kami diskusi dulu," kata Saut.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 119 kali