cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

Jakarta(MedanPunya) Otoritas eksekusi mati ada di tangan Jaksa Agung. Namun sudah tiga tahun, eksekusi mati tak lagi berdengung. Para bandar yang meringkuk di bui pun senang. Mereka lagi-lagi mengimpor sabu.

Hal itu seperti dilakukan Efendi Salam Ginting. Awalnya, ia dihukum selama 8 bulan penjara pada 24 Maret 2014. Kala itu, ia dihukum karena tidak melaporkan adanya tindak pidana narkoba.

Belum setahun berlalu, ia kembali terseret kasus narkoba dengan jumlah fantastis, yaitu 10 kg sabu. Lagi-lagi, Efendi duduk di kursi pesakitan.

Pada 24 Maret 2016, Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai menjatuhkan hukuman mati kepada Efendi. Hukuman itu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Medan pada 24 Mei 2016. Duduk sebagai ketua majelis Cicut Sutiarso, dengan anggota Rustam Idris dan Abdul Fattah.

Di tingkat kasasi, hukuman mati itu kembali dikuatkan. Duduk sebagai ketua majelis hakim agung Salman Luthan, dengan anggota Margono dan Sumardijatmo.

Meski Efendi sudah dihukum mati, jaksa tak kunjung mengeksekusinya. Efendi, yang menghuni LP Tanjung Gusta, memanfaatkannya dengan mengontrol impor sabu lagi dari balik bui. Kali ini jumlahnya 8 kg.

"Saya tidak menyesal pengedar narkoba, pekerjaan ini dilakukannya sejak tahun 2015," ujar Efendi.

Menurut tersangka, mengedarkan narkoba adalah cara yang paling cepat untuk mendapatkan uang.

"Saya juga diberikan upah untuk menjual narkoba," kata Efendi.

Padahal hukuman mati itu sesuai dengan tuntutan jaksa. Tapi setelah dikabulkan hakim, mengapa Efendi tak kunjung dieksekusi mati?

***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 102 kali