cache/resized/e76a786f47a2f13b6459e30c03d9ce01.jpg
Jakarta(MedanPunya) Institute for Criminal and Justice Reform ( ICJR) mempertanyakan pemenuhan ...
cache/resized/82b6617f94ea680115c3ba247773a2d5.jpg
New York(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kritikan kepada ...
cache/resized/d62aab24d5771b45119d776c93896d07.jpg
New York(MedanPunya) Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, dipenuhi gelak tawa ketika ...

Medan, (MedanPunya) - Memperingati Hari Bhakti Dokter Indonesia ke-110 dan Milad PDUI ke-10, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku prihatin. Sebab, pemerintah justru mengkapitalisasikan nilai-nilai kesehatan tersebut.

Hal itu dikatakan Ketua IDI Sumut dr Edy Ardiansyah SpOG (K), didampingi Ketua IDI Medan dr Wijaya Juwarna SpTHT-KL, Ketua PDUI Sumut dr Dedy Irawan Nasution kepada wartawan dalam acara berbuka puasa bersama, di Hotel Grand Kanaya Medan, Minggu (10/6) sore.

Dokter Edy menambahkan, dalam memperingati Hari Bhakti Dokter Indonesia, dalam bahasa Indonesia, berbakti berarti memajukan bangsa. Dan ini telah dilakukan para dokter sejak tahun 1908. "Dalam hal ini, bukan hanya kesehatan saja yang dimajukan para dokter, tetapi cara berpikirnya anak bangsa mencapai kemerdekaan, sehingga semua unsur dan aspek kehidupan dapat dirasakan merdeka, dan inilah bentuk kesehatan bangsa," ujar dr Edy.

Dokter saat itu, lanjutnya, dalam pembuktiannya berperan menanamkan Dharma Baktinya di dalam mencapai kemerdekaan, meski membutuhkan waktu hingga tahun 1945, dalam pengumuman Proklamasi. Di dalam sejarahnya, perjuangan dokter ada turun naiknya. Pada zaman awal kemerdekaan, kesehatan itu diutamakan, sesuai yang ada, termasuk di UUD 1945, dan dijabarkan lagi GBHN. Namun, pada perkembangan sekarang, mencapai satu abad, mungkin banyak hal yang perlu ditolerir.

"Karena kita sudah melupakan bahwa nilai kesehatan bukan bagian swasta, bukan bagian kapitalis. Tetapi nilai-nilai kesehatan bagian dari tonggak perjuangan kemerdekaan ini. Salah satunya, mulai dari keamanan, pendidikan dan kesehatan, itu tidak bisa dilepas secara kapitalis. Karena itu, kita kembali ke fitrahnya, kita berharap agar para petinggi negara menyadari kesehatan bagian terpenting yang tidak kalahnya dari bagian lain pengisi pembangunan ini," tegasnya.

Karena itu, ia berharap, ke depan pihaknya akan berupaya, untuk mengembalikan nilai-nilai kesehatan ini kepada fitrahnya.

"Kesehatan itu bukan produk manusia, tetapi produk Tuhan. Tetapi kita mengalurkan dan menjalaninya dengan baik dan benar, sehingga pencapaian nilai-nilai kemanusiaan, kualitas bangsa tercapai dengan baik. Karena itu jepada pemerintah, kembalikan fitrahnya nilai-nilai kesehatan ini, meski perlu regulasi yang dapat membangun," imbaunya.

Sementara, Ketua IDI Medan dr Wijaya Juwarna SpTHT-KL menambahkan, bicara Hari Bhakti Dokter Indonesia tak lepas dari sejarah perjuangan para dokter pada 20 Mei tahun 1908. Di Indonesia para dokter di tahun tersebut sudah peduli dengan masa depan bangsa. Tidak hanya dari sisi kesehatan fisik dan mental tetapi juga kesehatan bangsa. �Semangat inilah yang perlu dihidupkan setiap tahunnya. Usia IDI belum sampai 100 tahun, namun perjuangan para dokter ini memberikan semangat perjuangan itu kepada IDI," katanya.

Lebih lanjut dikatakannya, jaminan kesehatan ini sudah berjalan, namun jika perlu dikritisi seharusnya pemerintah menyiapkan lebih kuat lagi fasilitas negara. Namanya juga program pemerintah, sebaiknya harus dikuatkan terlebih dahulu, barulah meminta sokongan swasta. Tetapi saat ini tonggak kekuatan justru di pihak swasta.

"Kita tahu sejak dahulu RSUD Pirngadi Medan sangat bersejarah, jauh lebih bersejarah dibandingkan RSUP H Adam Malik. Di RSUD Pirngadi ini banyak mencetak dokter-dokter kawakan yang sangat bersejarah, tetapi sekarang malah mati suri. Karena itu, kita meminta kepada Pemerintah Kota (Pemko) Medan harus dikuatkan kembali rumah sakit tersebut. RSUD Pirngadi perlu disusui lagi, katena telah membuat kita gelisah. Sudah sangat malu kita," ungkapnya.

Dari sisi program pemerintah pun, yakni BPJS Kesehatan, lanjutnya, sesungguhnya pihaknya sangat bersyukur, karena banyak membantu masyarakat menengah ke bawah. Hal itu Tidak bisa ditampik. Namun di satu sisi, untuk tenaga kesehatan, ini malah memprihatinkan, kompensasinya tidak pas (tepat). Apalagi tenaga kesehatan juga membutuhkan resiko yang besar, seperti melaksanakan operasi (bedah) besar, dengan menantang maut, tetapi kompensasinya tidak sesuai.

Sementara, di satu sisi, rumah sakit swasta harus mampu menghidupkan operasionalnya, mendahulukan dana sekitar 2-3 bulan ke depan untuk menghidupi operasionalnya, barulah negara menyalurkan dana. "Ini sangat membuat kita prihatin. Jika rumah sakit tidak didukung pengusaha dan cadangan dana yang besar, maka akan kolaps," tukasnya. (fit)

  • 0 komentar
  • Baca 108 kali