cache/resized/2011b1049d0c18fe2b9110914ddd5daa.jpg
Idlib(MedanPunya) Anggota Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) dilaporkan dijejer di jalan dan ...
cache/resized/b46cee9fe2241df9f4fc9f8325866285.jpg
Washington(MedanPunya) Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard, ...
cache/resized/463ce84142a875d95831164ce57c0a99.jpg
Washington(MedanPunya) Dalam pidato kenegaraan atau State of Union, Presiden Amerika Serikat Donald ...

Jakarta(MedanPunya) Jaksa mencecar Kepala Seksi Evaluasi Litbang Diklat Mahkamah Agung (MA), Suhenda terkait saran Suhenda kepada pengusaha Tamin Sukardi selaku penyuap hakim ad hoc, Merry Purba agar 'cincay' dalam menyikapi perkara di PN Tipikor Medan. Jaksa bertanya maksud dan tujuan kata 'cincay' itu.

Awalnya, jaksa bertanya awal mula perkenalan Suhenda dengan Tamin. Dia mengatakan awal perkenalannya itu pada tahun 2000, saat itu Suhenda sebagai resepsionis MA mengantar Tamin ke Tata Usaha MA untuk mengantar surat, lalu setelah lama kenal terjadilah tukar menukar nomor telepon antara keduanya.

Suhenda mengatakan setiap Tamin datang ke Jakarta, dirinya juga beberapa kali sempat mengantar jemput Tamin. Dia mengaku tidak ada tujuan apapun, hanya sebatas teman saja.

"Kalau beliau datang, beliau minta jemput. Kalau nggak ada kerjaan, saya jemput kalau ada kerjaan saya nggak jemput," kata Suhenda saat bersaksi di persidangan Merry di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (13/3).

Selanjutnya, jaksa Luki bertanya mengenai sadapan telepon yang dilakukan KPK dari telepon Suhenda dan Tamin. Di sadapan itu, Suhenda pernah menyarankan ke Tamin terkait perkara yang sedang dijalaninya di PN Medan.

"Tamin pernah hubungi saksi untuk berkonsultasi perkara PN Medan. Saudara di situ bilang ke Tamin supaya cincay-cincay aja. Maksudnya apa?" tanya jaksa Luki.

"Ya terserah beliau kalau mau damai-damai lah. Maksud saya supaya nggak ganggu terus. Kadang-kadang kan dia telepon saya terus malam-malam, telepon terus," kata Suhenda.

Jaksa bertanya lagi apa maksud kata 'cincay' yang dikatakan Suhenda. Namun, lagi-lagi Suhenda mengaku tidak tahu maksud perkataannya.

"Kok kurang tahu, kan saudara yang katakan itu?" tanya jaksa.

"Maksud saya damai. Saya kurang tahu maksudnya, kadang-kadang beliau telepon, saya jawab itu nggak terlalu mudeng, kadang sambil bercanda?" ucapnya.

Jaksa menilai jawaban Suhenda tidak logi. Kemudian jaksa pun merinci lagi pertanyaannya. Jaksa bertanya apakah yang dimaksud Suhenda cincay itu dengan jaksa atau hakim. Lagi-lagi Suhenda mengaku tidak tahu.

"Iya maksudnya cincay sama siapa? Sama hakim atau jaksanya atau gimana?" tanya jaksa lagi.

"Ya supaya beliau damai sama siapalah, pokoknya jangan ganggu saya. Jangan telepon saya terus lah," kata Suhenda.

Merry menjalani proses hukum berkaitan dengan perkara suap. Dia didakwa menerima SGD 150 ribu atau sekitar Rp 1,5 miliar dari seorang pengusaha bernama Tamin Sukardi.

Uang itu diberikan Tamin melalui perantara anak buahnya bernama Hadi Setiawan kepada panitera pengganti Pengadilan Tipikor Medan bernama Helpandi.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 9 kali