cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...
cache/resized/b0464be8544b45de19561aca7b0af046.jpg
Bandar Sri Begawan(MedanPunya) Pemerintah Brunei Darussalam tidak hanya memberlakukan hukuman rajam ...

Medan(MedanPunya) Komisi D DPRD Medan mengunjungi bangunan Rumah Toko (Ruko) yang roboh di Jalan Ringroad, Medan Sunggal, Selasa (9/4).

Sidak yang dilakukan ke lapangan tersebut dipimpin Ketua Komisi Abdul Rani yang hadir bersama dua anggota Komisi D lainnya Parlaungan Simangunsong dan Ahmad Arif.

Abdul Rani dan Parlaungan yang hadir duluan ke lokasi, turut memantau kondisi sebuah rumah warga yang turut tertimpa material bangunan ruko tujuh pintu tersebut.

Keduanya pun heran mengetahui antara bangunan ruko dengan rumah milik Torganda Manurung tidak ada jarak.

"Padahal sudah kita atur Perda, agar setiap bangunan itu punya jarak atau spasi 1,5 meter, tapi pas dilihat di sini tampaknya gak ada jaraknya lagi," ujar Parlaungan sembari melihat dua kamar dan dapur yang ikut roboh.

Rumah milik Torganda Manurung disusupi abu tebal dari reruntuhan bangunan. Keluarga Torganda pun mengaku belum akan membersihkannya sebelum tim dari pihak berwajib dan Pemko Medan menganalisis bangunan.

Parlaungan pun menyampaikan kasus nahas seperti ini jangan sampai terulang kembali. Untuk itu Komisi D DPRD berencana memanggil instansi yang layak bertanggung atas kasus tersebut.

Keterangan Parlaungan ditimpali Abdul Rani. Komisi D DPRD Medan akan memanggil Kadis Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Kadis PKP2R, Camat Medan Sunggal dan Lurah Medan Sunggal.

"Kita buat Rapat Dengar Pendapat (RDP) saja dengan para pihak, termasuk meminta keluarga Pak Manurung hadir agar dibahas di sana. Kita jadwalkan Selasa 16 April 2019 mendatang," ujarnya.

"Kasus seperti ini gak boleh terjadi lagi, kita akan minta setiap proses konstruksi bangunan bertingkat di Medan ini diawasi, dinas terkait harus mengawasi terus perizinannya," katanya.

Menurut Rani setiap adanya konstruksi bangunan, dinas terkait harus ikut mengawasi. Termasuk merobohkan sendiri dengan sengaja.

"Semua ada aturannya," tambahnya

Pemilik rumah T Manurung berharap adanya kepedulian pemerintah kota Medan lantaran beberapa bagian rumahnya ikut roboh.

Apalagi keluhnya, sampai saat ini belum ada pihak pemilik ruko dan pemko yang membantu perawatan anaknya yang menjadi korban.

"Anak saya sudah pulang tadi ini. Ada luka di kepala dan punggungnya. Saya minta pemerintah peduli lah dengan apa yang kami alami ini," ujarnya dengan nada bergetar, menceritakan kondisi anaknya Febri Manurung (16) yang menjadi korban

Ia juga menjelaskan bahwa dalam masa konstruksi, pihak pengawas ataupun pemilik ruko belum meminta izin kepada dirinya sebagai tetangga. Kesannya, pemilik ruko tidak perduli dengan kebisingan yang dialaminya selama ini.

"Selama dibangun itu bising sekali. Gak bisa tidur kami. Malam pun ada saja suara," tukasnya.

Dari sepengetahuannya, pemilik bangunan adalah salah seorang pengusaha keturunan Tionghoa berinisial A. Namun, ia menceritakan bahwa dirinya sudah lebih dulu tinggal di rumahnya yang juga dibuka untuk klinik bersalin.

"Ini yang punya si A. Tapi kami sudah lebih dulu tinggal di sini, sudah hampir 30 tahun kami tinggal di sini sebelum ada bangunan itu," katanya.

Ia berharap jika dibangun ulang, ruko tersebut mesti benar benar kuat agar apa yang dialami keluarganya tidak terulang kembali, lantaran sebelum peristiwa ini terjadi, kasus ambruknya ruko sempat terjadi beberapa tahun yang lalu.***trb/mpc/bs



  • 0 komentar
  • Baca 79 kali