cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

Medan(MedanPunya.Com) Terjadinya kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia diduga akibat kurang sosialisasi pengetahuan keamanan, sosial dan budaya negara yang ditempatkan.

Dalam hal ini, Perkenalan Pusat Studi Asean USU dan Sosialisasi Komunitas Asean 2015 diharapkan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan ketenagakerjaan Indonesia di negara ASEAN.

Jelly Leviza SH M Hum, Ketua Pusat Studi ASEAN, memaparkan bahwa Komunitas ASEAN 2015 terbagi tiga, yakni komunitas keamanan ASEAN, komunitas ekonomi ASEAN dan komunitas sosial budaya ASEAN. Sehingga masyarakat tidak lagi menerima informasi mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) melainkan harus lengkap juga dengan pengetahuan sosial budaya dan keamanannya agar tenaga kerja Indonesia yang akan bekerja di negara ASEAN atau di negara mana pun paham hukum dan budaya negara yang akan ditujunya.

"Pahami perundang-undangan dimana ia bekerja, misalnya di negara Singapura, Taiwan dan lain-lain, bukan hanya memfokuskan pada pengetahuan ekonomi atau malah disadurkan pengetahuan perundang-undangan Indonesia saja, tapi secara lengkap terkait keamanan yakni hukum disana, sosial dan budaya disana yakni cara bersikap di mana tenaga kerja itu ditempatkan," katanya.

Menurutnya, peningkatan kualitas tenaga kerja juga penting agar tidak ada lagi WNI yang diperlakukan kasar seperti digosok, dipukul dan lain-lain di negara lain.

Pusat Studi Komunitas ASEAN USU didirikan dengan latar belakang menghadapi ASEAN Community 2015. Dalam hal ini akan meneliti pusat kajian untuk kesiapan di bidang pendidikan, pengajaran, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat.

"Ini tugas besar kami untuk mensosialisasikan kesiapan ini untuk pelaku usaha, dan tenaga kerja. Baik itu di bidang pelatihan, seminar, workshop dan penyuluhan. Tugas kita juga memberikan pemahaman terhadap pilar-pilar komunitas ASEAN dan menuntut kesiapan semua pihak, baik itu pemerintahan dan masyarakatnya sendiri," tambahnya.

Menurutnya, kita dapat menggali keunggulan Indonesia, dan jangan mengangkat pesimistis karena tenaga kerja Indonesia pasti memiliki keunggulan. " Semoga kita menjadi masyarakat yang realisme (memegang kebenaran), dengan menganalisa banyak hal, dan memilih yang benar untuk dipegang sehingga terus memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Bukan menjadi masyarakat yang skeptis dan pesimis," tambah Jelly.

Hal ini ditanggapi pemateri dari Kepala Seksi Perlindungan dan Pemberdayaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia  (BP3TKI) Medan-Sumut, Rizal Saragih, yang menjawab penempatan TKI tentu setelah melakukan pengetahuan dan pengertian tentang negara yang akan ditempatkan, karena BP3TKI memilki perangkat dan sarana perlindungan TKI, meliputi perjanjian penempatan TKI, perjanjian kerja, asuransi TKI, kartu tenaga kerja luar negeri.

"Penempatan TKI asal Sumatera Utara masih didominasi dengan tujuan negara penempatan Malaysia yang pada umumnya bekerja pada sektor operator produksi, perkebunan, konstruksi dan lain-lain. Kita menyediakan pelatihan di bidang lain tapi sepertinya kurang diminati sehingga para TKI masih fokus pada penempatan di atas," katanya.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 946 kali