cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

Medan(MedanPunya.Com) Bermain pedang atau olahraga anggar mungkin biasa dimainkan kaum adam, tapi tidak bagi Jihan Siska, atlet anggar Sumut, yang menganggap olahraga anggar juga harus diminati kaum hawa untuk menjaga diri dan bukan olahraga yang maskulin. Menurutnya olahraga anggar merupakan olahraga yang stylis dan baik untuk perempuan.

Bahkan Siska mengaku tertarik di bidang anggar karena kostum yang dikenakan para atlet anggar. "Awalnya kurang tertarik, tapi karena melihat kostumnya stylis daripada atlet-atlet yang lain, saya jadi tertarik. Ternyata bidang anggar ini tidak menonjolkan sisi maskulin saja, buktinya kostumnya sangat stylis," kata anak keempat dari enam bersaudara ini.

Siska menuturkan sempat tidak tertarik dan tidak mau mengikuti olahraga anggar, tapi karena dipaksa orangtua dan berkat ajakan sepupunya yang juga atlet anggar, akhirnya Siska mau melihat proses latihan dan memenuhi permintaan orangtuanya untuk masuk anggar.

"Saya memang awalnya nggak mau latihan, tapi karena lagi-lagi karena kostumnya bagus, saya jadi mau latihan biar pakai kostum anggar. Lama-lama jadi serius di bidang ini karena bisa naik pesawat gratis waktu ikut Kejurnas pertama kali di Jakarta," kata pegawai honor di Universitas Negeri Medan yang lolos melalui jalur atlet berprestasi di Sumut.

Siska menuturkan pertama kali serius di bidang Anggar adalah ketika dia bisa naik pesawat untuk pertama kalinya. Siska merasa beruntung bisa pergi ke luar kota dibiaya pemerintah. Sejak saat itu dia tekun latihan dan mendapatkan banyak prestasi di beberapa kejuaraan nasional.

"Kalau bukan karena menjadi atlet saya tidak akan pernah keluar kota apalagi keluar negeri, sejak menjadi atlet saya sudah ke Kalimantan, Riau, Jakarta, Kuala Lumpur, China, dan beberapa kota dan negara lainnya," jelasnya.

Siska hanya menyanyangkan pemerintah tidak menyediakan gedung anggar pribadi, sehingga para atlet bisa latihan dan menggelar ajang-ajang kompetisi yang terbuka untuk atlet lainnya. Pasalnya, belasan tahun menjadi atlet anggar, Siska dan atlet lainnya harus berpanas-panasan latihan di lapangan sekolah atau halaman pelatih.

"Saya berharap ke depannya Sumut memiliki gedung anggar pribadi, hal ini untuk memotivasi atlet anggar muda yang ingin menggeluti bidang anggar agar lebih fokus latihan," katanya.

Siska berpesan kepada atlet anggar yang berada di Sumut agar bersabar terhadap keadaan, walaupun kita tidak memiliki gedung untuk berlatih, tapi jangan pantang menyerah dan mengeluh.

"Seorang atlet meraih sesuatu tidak pernah langsung dapat, segala sesuatunya  harus merintis dulu dan dari nol, bagaimna pun keadaan anggar sekarang atlet harus fokus pada mimpinya," katanya.

Atlet yang sedang melakukan persiapan pra PON 2015 ini menuturkan pertama kali mengenal olahraga anggar saat usianya 13 tahun. Saat itu dia tidak langsung menjadi atlet berprestasi, melainkan harus sibuk dulu latihan dan mengikuti beberapa lomba dengan pulang menerima kekalahan, hingga 3 tahun kemudian saat Siska berusia 16 tahun, baru ia mendapatkan emas pertamanya.

"Yang penting sabar dan tidak mudah meyerah," tambahnya.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 939 kali