cache/resized/03ae02c03a497507a5cc772e7d2ad074.jpg
Jakarta(MedanPunya) Mahkamah Agung (MA) menyunat hukuman mantan Menteri Sosial Idrus Marham. Ia ...
cache/resized/e7c744cd89e31cec761eab760e829fec.jpg
Medan(MedanPunya) Gubernur Edy Rahmayadi menegaskan keharusan Apatur Sipil Negara (ASN) Sumatera ...
cache/resized/6039b8c3883e38106b1a3814f7533f80.jpg
Jakarta(MedanPunya)  KPK mengamankan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam operasi tangkap tangan ...

Medan(MedanPunya.Com) Memukul gordang sambilan memang mungkin hal yang kerap dilakukan laki-laki, pasalnya alat bunyi yang besar seperti drum ini memang terbilang besar dan mesti dipukul kuat untuk mendapatkan suara yang pas. Namun, Mirah Ndraha (19) bersama 6 rekannya beraksi memukau memukul alat musik tradisional Mandailing, Gordang Sembilan dalam beberapa acara.

Alat musik tradisional dengan ukuran yang cukup besar ini biasanya memang dimainkan oleh kaum pria. Maka tak heran, saat 7 mahasiswi semester 3 Jurusan Seni Music, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Medan (FIB-Unimed) ini memainkannya, mata ratusan orang tertujuh pada mereka, terlebih lagi anggota Gordang Sambilan ini bisa dibilang cukup cantik.

"Ini untuk pertama kalinya di Unimed ada group Gordang Girl atau Gordang Hawa. Kami baru tampil dua kali, pertama saat Yudisium Unimed dan kedua saat launching buku Lena Simanjuntak kemarin," ujar Mirah yang berlaku penjaga tempo.

Gordang Girl dibentuk sejak 2 bulan lalu, Penampilan pertama mereka, ternyata telah membuat seorang panitia Pesta Tabuik Pemkab Pariaman kagum dan menantang mereka untuk memainkan gordang sambilan selama satu setengah jam lamanya dalam acara pesta budaya Tabuik yang dilaksanakan pada 8 November mendatang.

Dalam acara pesta budaya Tabuik ini nantinya akan ada perkumpulan perkusi di Indonesia bahkan dari luar negeri juga dijadwalkan akan hadir. "Semua perkumpulan alat pukul atau perkusi  berkumpul ke sana. Makanya kita benar-benar berlatih. Gendang terkecil sampai gendang terbesar akan tampil di sana," ujar Mirah.

Mirah bersama rekannya, Fitri, Ventry, Nia, Farida, Udur dan Juniarti memang tak pernah terpikir kalau tim mereka menjadi group pilihan dosen. "Jadi setiap kelas itu ada tim gordang sambilan ini, tapi kita yang dipilih. Kami semua satu kelas, dan kami tak pernah menyangka bisa terpilih," katanya.

Sejak semester pertama, mereka memang sudah diajarkan tentang musik tradisional. Namun musik gordang sambilan adalah salah satu alat musik yang tidak mudah dimainkan. Selain tidak bisa dimainkan sendiri, bermain Gordang Sambilan harus kompak serta memiliki power. Satu saja membuat kesalahan, maka musiknya akan lari.

"Kami hanya ingin membuktikan kalau bukan hanya paduan suara dan orchestra saja yang bisa kemana-mana keliling dunia. Tapi alat music tradisional seperti Gordang Sambilan juga bisa dibawa keliling dunia," katanya.

Diceritakan Mirah, tangannya dan teman-temannya pun sudah terbiasa dengan kata 'pegal', namun untuk memenuhi permintaan tampil di acara budaya Tabuik, mereka terus berlatih. Sehari bisa sampai 2 jam berlatih. "Awalnya pegal sih, tapi sekarang sudah terbiasa, namanya juga untuk penampilan terbaik di acara besar pula," ujarnya.

Aqsa Utama, Komposer dan Asisten Dosen yang mendampingi Gordang Girl menuturkan cukup bangga atas kemajuan dan tekad mahasiswanya untuk serius di Gordang Girl. "Tidak kesulitan yang berarti dalam membimbing mereka, mereka semua memang ingin terus belajar dan rajin latihan, khususnya untuk penampilan di acara pesta budaya Tabuik nanti," katanya.

Group music yang awalnya dibentuk untuk memenuhi tuntutan mata kuliah ini pun diharapkan bukan hanya mampu menjadi kebanggaan Unimed, tapi juga kebanggaan bagi Sumatera Utara.

"Kita harapkan mereka mampu jadi group musik yang dapat membawa nama Sumut ke kanca nasional juga Internasional," ujar Aqsa Utama.***trb/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 998 kali