Jakarta(MedanPunya) Seorang ibu-ibu di Medan menjadi korban love scam setelah ditipu pria yang mengaku ganteng dan berasal dari Singapura. Dalam kurun empat bulan, pelaku berhasil menguras uang korban hingga Rp 120 miliar. Padahal, belakangan diketahui pelaku juga berasal dari Medan dan memakai identitas palsu yang dipoles dengan AI.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berbagai modus tindak penipuan atau scam di sektor jasa keuangan. Salah satu yang belakangan paling banyak memakan korban adalah modus berkedok asmara atau love scam.
Ketua Satgas PASTI, Rizal Ramadhani, menjelaskan baik laki-laki dan perempuan bisa menjadi korban love scam. Pelaku biasanya menggoda korban dengan ‘sosok’ berparas menarik, dan kebanyakan hanya hasil rekayasa AI.
“Modusnya biasanya perempuan, ngakunya perempuan. Karena semua pakai AI, suara bisa mirip, muka bisa mirip. Jadi waktu dicek muka bisa pakai AI karena mereka tampaknya perempuan,” kata Rizal saat ditemui di sela-sela acara Seminar on Scams, Jakarta Pusat, Senin (6/7).
Dengan sosok palsu buatan AI inilah pelaku sering kali melakukan pendekatan kepada para korban. Setelah korban merasa nyaman, pelaku akan meminta dana dengan berbagai cara, baik meminta secara langsung maupun meminta korban membeli produk tertentu.
“Terus akhirnya dimintai uang, uang itulah yang ditransfer, orangnya hilang. Kira-kira gitu sih gampangnya,” jelas Rizal.
Melanjutkan penjelasan Rizal terkait modus love scam, Direktur Satgas PASTI Brigjen Pol. Djoko Prihadi mengatakan salah satu kasus dengan nilai kerugian paling besar dialami korban perempuan asal Medan yang bekerja di angkutan publik.
“Nah itu ada korban yang paling besar itu di Medan, Rp 120 miliar, ibu-ibu, dia angkutan publik,” kata Djoko.
Ia menjelaskan modus love scam ini dilakukan oleh seorang pemuda yang juga berasal dari Medan. Namun dengan AI, pelaku bisa ‘memoles’ penampilan dan menggunakan identitas palsu agar terlihat menarik di mata korban.
“Jadi mereka memang pendekatannya luar biasa. Ganteng banget di akunnya, dia ngakunya orang Singapura, padahal sama-sama orang Medan. Korban orang Medan, pelaku orang Medan,” terangnya.
Djoko mengatakan dalam kasus ini pelaku melakukan love scam selama empat bulan dan berhasil meraup Rp 120 miliar dari korban. Setelah itu pelaku langsung hilang dan tak bisa dikontak, sementara korban baru sadar telah tertipu dan melapor tiga bulan kemudian.
“Salah satu yang paling besar itu. Satu orang loh, Rp 120 miliar, empat bulan sudah amblas. Dia lapor sudah sekitar tiga bulan kemudian. Jadi kita juga tracing money-nya, money trail-nya itu sudah sulit. Ya sudah habis semua, sudah hilang,” tandas Djoko.***dtc/mpc/bs
