cache/resized/2011b1049d0c18fe2b9110914ddd5daa.jpg
Idlib(MedanPunya) Anggota Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) dilaporkan dijejer di jalan dan ...
cache/resized/b46cee9fe2241df9f4fc9f8325866285.jpg
Washington(MedanPunya) Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Agnes Callamard, ...
cache/resized/463ce84142a875d95831164ce57c0a99.jpg
Washington(MedanPunya) Dalam pidato kenegaraan atau State of Union, Presiden Amerika Serikat Donald ...

Jakarta(MedanPunya) Anggota Dewan Pakar Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Drajat Wibowo mempertanyakan rasa empati yang dimiliki Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Agum Gumelar.

Hal ini berkaitan dengan pernyataan Agum yang mengungkit dukungan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono kepada Prabowo, padahal SBY adalah salah satu jenderal yang ikut 'berperan' memecat Prabowo dari TNI.

Drajat pun mengaku tidak nyaman dengan pernyataan yang dilontarkan mantan petinggi TNI itu. Sebab pernyataan Agum dilontarkan saat keluarga SBY memperjuangkan kesembuhan Ani Yudoyono yang divonis kanker darah.

"Saya semakin tidak nyaman karena hal itu disampaikan pada saat Pak SBY dan keluarga sedang mengusahakan kesembuhan ibu Ani Yudhoyono. Apa memang sekarang tidak ada lagi tenggang rasa antar kita," kata Drajat, Selasa (12/3).

Tak hanya itu, politikus PAN ini juga mengaku tidak nyaman melihat mantan Komandan Jenderal Kopassus TNI AD tersebut menyerang koleganya seperti itu. Lagi pula saat ini posisi SBY adalah resmi sebagai seorang sipil yang memiliki hak suara dan menentukan pilihannya sendiri.

"Jujur, saya sebagai generasi yang lebih muda dari Pak Agum merasa tidak nyaman melihat mantan petinggi ABRI menyerang koleganya seperti itu," kata dia.

"Pak SBY itu sudah lama menjadi orang sipil. Beliau menjadi presiden dua periode dan memimpin parpol. Tentu beliau mempunyai hak penuh untuk menentukan pilihan politik beliau," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Drajat juga menyinggung soal sikap politik SBY dan Partai Demokrat di Pilpres 2014 lalu. SBY, kata dia, kala itu bersikap netral demi menjaga lembaga negara lain tak ikut-ikutan menunjukkan sikap politiknya mengingat posisinya sebagai presiden.

Padahal mudah saja bagi SBY menentukan pilihan, mengingat kala itu besannya, Hatta Rajasa menjadi cawapres Prabowo melawan Jokowi-JK.

"Padahal Bang Hatta Rajasa adalah besan beliau. Jadi tindakan politik yang beliau ambil itu menjaga tata kenegaraan. Sekarang beliau bebas mengungkapkan pilihan politik beliau," katanya.

Sebelumnya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar mempertanyakan sikap politik koleganya, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Hal itu terungkap dalam sebuah diskusi yang direkam dan diunggah oleh Ulin Ni'am Yusron di akun Facebooknya, Senin (11/3).

Dalam rekaman diskusi tersebut Agum mengkritik dukungan SBY kepada Prabowo. Sebab, kata Agum, SBY termasuk satu dari tujuh jenderal anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang ikut menandatangani surat rekomendasi berisi pemecatan terhadap Prabowo karena terbukti melakukan pelanggaran terkait kasus penculikan aktivis '98.

"Tanda tangan semua. Soebagyo HS tanda tangan. Agum Gumelar tanda tangan, SBY tanda tangan. Yang walaupun sekarang ini saya jadi heran, ini yang tanda tangan rekomendasi kok malah sekarang mendukung. Tak punya prinsip itu orang," kata Agum dalam sebuah diskusi yang diunggah Ulin Yusron di laman Facebooknya.***cnn/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 7 kali