cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

Jakarta(MedanPunya) Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, menyebut bubarnya ISIS di Timur Tengah menjadi ancaman persatuan di Indonesia. Menurutnya mantan unsur-unsur ISIS akan kembali ke negara masing-masing dan membawa ideologi dari luar.

"Ancaman paling nyata kalau kita lihat dari luar yaitu penyebab ancaman, misal yang paling nyata saat ini adalah yang tidak bisa dilepas dari dinamika perkembangan lingkungan itu bubarnya ISIS di Timur Tengah," kata Agus kepada wartawan di Basketball Hall, Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (7/8).

Agus mengungkap bubarnya ISIS menjadi kendala dalam memonitor pergerakan kelompok tersebut. Dia menduga eks ISIS akan kembali ke negara masing-masing. Pada poin tersebut, Agus menyatakan ideologi ISIS mesti diwaspadai.

"Unsur-unsur mereka, karena mereka terdiri dari pejuang nasional dari berbagai negara, kemungkinan besar mereka akan kembali ke negara masing masing, kita punya kewajiban memantau apa yang mereka lakukan di tengah masyarakat sendiri, jangan sampai mereka pulang membawa ideologi dari luar," ucapnya.

Selain itu, Agus mengatakan ada beberapa kelompok yang rawan terpapar ideologi ISIS tersebut. Ia menyebut kelompok itu intoleran terhadap Pancasila.

"Yang paling rawan ya saya menilainya dari indikator konkret pernyataan-pernyataan berbagai komponen dan yang sudah mengeluarkan pernyataan konkret narasi adalah kelompok-kelompok intoleran yang menyatakan secara eksplisit mereka tujuannya adalah menggantikan Pancasila," sebutnya.

Kemudian Agus juga menentang NKRI bersyariah. Menurutnya NKRI bersyariah tidak bisa diterapkan di Indonesia.

"Kalau menurut saya itu eufemisme istilah-istilah yang dipaksakan untuk digabungkan. Kalau kita lihat elemen-elemen NKRI, itu ada elemen bersifat mutlak yang tidak bisa diselaraskan dengan syariah. Kita perlu waspadai itu, dari istilah-istilah sifatnya moderat, menghibur, halus, tapi pada esensinya tidak bisa disatukan, kita perlu waspadai itu," ungkap Agus.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 32 kali