cache/resized/de63f0d2a22d502cee5872cc2ecad34c.jpg
MedanPunya - Menyusul ponsel orang terkaya dunia, Jeff Bezos, diretas melalui file video yang ...
cache/resized/e8817f3e820125f5141ada3a1cb021dd.jpg
Teheran(MedanPunya) Seorang anggota parlemen Iran menawarkan uang sebesar US$ 3 juta (Rp 40,3 ...
cache/resized/b08c12473eaedd350872fbba9d495169.jpg
Jakarta(MedanPunya) Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan ada cucu usaha dari PT Garuda Indonesia ...

Jakarta(MedanPunya) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berharap pemerintah lebih mewujudkan toleransi yang hakiki, bukan simbolisasi fisik seperti terowongan silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Untuk itu, PP Muhammadiyah berpendapat agar pembangunan terowongan itu ditinjau ulang.

"Kalau menurut saya, yang dibutuhkan sekarang itu bukan silaturahmi dalam bentuk fisik dengan terowongan, tapi yang diperlukan itu silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial di mana pemerintah ini secara sungguh-sungguh membangun toleransi yang autentik, toleransi yang hakiki, bukan toleransi yang basa-basi," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti di kantornya, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (10/2).

Dia mengatakan membangun sikap toleransi yang autentik lebih dibutuhkan bagi bangsa Indonesia saat ini. Abdul meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau kembali rencana ini.

"Itu yang jauh diperlukan oleh Indonesia sekarang. Jadi kalau saya boleh mengusulkan, sebaiknya ditinjau lagi pembangunan terowongan silaturahmi Katedral dan Istiqlal itu," ujar Abdul.

Abdul menyebut banyak bangunan masjid dan gereja di Indonesia yang posisinya bersebelahan. Dia menyebut umat beragama yang ada di kedua rumah ibadah tersebut sama sekali tidak memiliki masalah.

"Nanti kalau kemudian itu, mohon maaf, antara Sunda Kelapa dan gereja sebelahnya itu juga berdekatan. Kenapa juga tidak dibangun? Bahkan di Indonesia dan tempat lain ya, kan banyak masjid dan gereja itu berimpitan bahkan bangunannya itu sharing satu tembok hanya beda halaman dan oke-oke saja," ungkap Abdul.

Dia pun mengatakan ide soal hal-hal simbolis semacam terowongan ini perlu diperhatikan lagi. Abdul menyebut infrastruktur sosial yang baik justru akan lebih berdampak pada penguatan rasa toleransi di masyarakat.

"Sehingga sepanjang kita ini berhasil membangun infrastruktur sosial. Terutama menyangkut sikap terbuka, toleransi, dan saling hormati, saya kira yang sifatnya simbolis seperti itu mungkin dilakukan berbeda saja," tutupnya.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 29 kali