cache/resized/f695b99f0277758dfe81e7b4284ae74e.jpg
Naples(MedanPunya) Dries Mertens tak menahan diri ketika ditanya soal keputusan Maurizio Sarri ...
cache/resized/f95acf087ea3c8aaa4510ffa1381d291.jpg
Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un dikabarkan meminta uang kepada ...
cache/resized/a169e5794c5351a617f5fa2480cc01f3.jpg
Beijing(MedanPunya) Citra satelit terbaru menunjukkan aktivitas China yang tengah membuat kapal ...

MedanPunya - Menyimak judul dan gambar posternya, wajar bila film ini terkesan sebagai komedi slapstick semata. Dalam sejumlah adegan kesan itu tak terbantahkan. Hanya saja dari dialog-dialog yang muncul, di sana-sini sarat dengan sentilan terhadap berbagai keb ijakan pemerintah. Sekaligus memotret situasi sosial-politik di awal masa Orde Baru. Tak cuma dari mulut dua aktor serbabisa Tan Tjeng Bok dan Benyamin Suaeb berbagai kritik terlontar, juga dari para pemain lainnya.

Akisah, sepasang kekasih (Wahab Adi dan Ritje Marghareta Gerung, Miss Fotogenic Jakarta 1974) berniat menempati rumah tua warisan orang tua. Ia meminta warga di sekitar lokasi, Benyamin S dan Rudy Djamil, untuk membersihkan dan memperbaiki beberapa ornamen yang rusak. Upaya perbaikan tak berlangsung mulus karena keduanya kerap diganggu sejumlah hantu yang lama menghuni rumah kosong tersebut. Di rumah itu, para hantu kedatangan seorang Pangeran Drakula (Tan Tjeng Bok) yang akan melamar putri hantu untuk putranya (Pong Hardjantmo).

Tentu saja mereka sangat terusik oleh aktivitas bersih-bersih yang dilakukan Benyamin dan Rudy. Mereka pun ngedumel. "Kita pindah ke sini kan karena kuburan sudah digusur, masak sekarang harus kena gusur lagi." Lalu salah satu di antara mereka nyeletuk, "Kalau kita tidak senang, bukannya bisa protes? Atau kita demonstrasi saja." Tapi hantu lainnya menukas, "Bukannya di sini masih terlarang untuk itu."

Film yang disutradarai Nya' Abbas Akup pada 1974 itu diputar sebagai pembuka acara bedah buku "Tan Tjeng Bok, Seniman Tiga Zaman 1898 - 1985" di kawasan Lebak Bulus beberapa hari lalu. Selain menampilkan kedua penulisnya, Fandy Hutaria dan dan Deddy Otara, serta sejarawan Didi Kwartanada, juga produser pelaksana film Drakula Mantu, Rushdy Hoesein.

Film ini sengaja dipilih untuk diputar karena Tan Tjeng Bok alias Pak Item pernah menyebutnya sebagai film terbesar yang dibintanginya. Menilik materi cerita boleh jadi demikian. Bahkan Didi menyebut film ini dibuat mendahului zamannya. Akibatnya masyarakat luas kurang bisa mencerna pesan yang disampaikan. Singkat kata, film yang skenarionya ditulis Nya' Abbas Akup dan dokter Rushdy Hoesein itu tak laku di pasaran.

Rushdy mengakui hal itu. Tapi secara pribadi dia tak terlalu rugi karena pemilik modal sebenarnya adalah sehabatnya, Erie Irawan Kaslan. Dia pengusaha kaya raya, rekanan Pertamina. Soal masyarakat kala itu belum bisa menerima film Drakula Mantu, sebagai penulis skenario Rushdy mengaku sedikit-banyak sudah memperkirakannya.

"Tapi film ini saya buat waktu itu memang target utamanya adalah kelompok masyarakat terdidik, para mahasiswa," ujarnya.

Karena alasan itulah, dialog para pemain berlangsung dalam Bahasa Indonesia baku. Penonton yang terbiasa menyaksikan film-film Benyamin pasti akan takjub. Meski tetap diselingi lagu dan aktingnya yang slengean khas Bang Ben, di film ini dia nyaris tidak bicara dengan idiom-idiom Betawi. Selain itu, irama musik jazz sengaja diselipkan Mus Mualim sebagai penata musik.

Ketika film masuk ke Badan Sensor, kata Rushdy yang saat ini dikenal juga sebagai sejarawan, sejumlah lobi dilakukan agar tidak terlalu banyak adegan dialog yang kena gunting. Sewaktu film mulai dipasarkan, ia mendapat kabar Presiden Soeharto dan keluarganya ikut meminjam copy filmnya untuk ditonton di Cendana. Ternyata penguasa Orde Baru itu tidak marah dengan berbagai kritik tajam dalam film ini. "Saya dapat cerita, Pak Harto malah ketawa-ketawa aja," ujar Rushdy.

Semula Benyamin yang akan berperan sebagai Drakula. Tapi Nya' Abbas Akup menolak dan memilih Tan Tjeng Bok. "Meski sudah tua, dia menjiwai betul peran tersebut," ujar Rushdy yang menyebut honor untuk Benyamin tetap lima kali lebih besar. "Pak Tan saya kasih RP 1 juta, Benyamin Rp 5 juta," imbuhnya.

Selain menyampaikan kritik sosial, film ini juga memperkenal konsep rekonsiliasi yang kala itu belum dikenal. Tapi konsep atau istilah itu menjadi sangat aktual dalam situasi politik mutakhir. Dikisahkan dalam akhir film, karena tak bisa menunjukkan sertifikat sebagai pemilik rumah para hantu akhirnya hijrah ke negeri entah-berantah bersama Pangeran Drakula.

Keputusan tersebut didahului dengan dialog, "Kenapa suatu persoalan mesti diselesaikan dengan kekerasan? Bukankah kita hidup di alam demokrasi?"

"Saya pikir lebih baik kita musyawarah saja."

"Benar Pak, musyawarah adalah kepribadian bangsa kita."

"Kalau sekarang Pak Jokowi dan Pak Prabowo rekonsiliasi, saya sudah mewacanakannya sejak 1974," kata Rushdy seraya berharap ada produser yang berminat membuat ulang film ini.***dtc/mpc/bs

  • 0 komentar
  • Baca 146 kali
Selengkapnya di dalam kategori ini: « Beda, Film 'Joker' Tak Sesuai Komik