cache/resized/4b58a38fdcca9a594c83be1e8a19081b.jpg
Riyadh(MedanPunya) Sebuah laporan merebak bahwa penasihat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran ...
cache/resized/e76a786f47a2f13b6459e30c03d9ce01.jpg
Jakarta(MedanPunya) Institute for Criminal and Justice Reform ( ICJR) mempertanyakan pemenuhan ...
cache/resized/82b6617f94ea680115c3ba247773a2d5.jpg
New York(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan kritikan kepada ...

MedanPunya - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) menyebutkan bahwa perusahaan teknologi raksasa yang beroperasi di Indonesia, dinilai tidak terlalu patuh dengan pemerintah untuk menangani suatu persoalan, satu di antaranya adalah Facebook.

Mulanya, Rudiantara memaparkan ada sembilan platform online di Tanah Air mengenai penilaian bagaimana mereka mengatasi konten-konten negatif yang ada layanannya, usai dipinta oleh pemerintah.

"Saya sampaikan ke teman-teman, media sosial itu nggak kooperatif-kooperatif amat. Ada sembilan platform, media sosial maupun messenger, ada tiga yang kurang kooperatif," kata Menkominfo.

Dilanjutkannya, pernyataannya itu berlandaskan stastistik, sehingga label 'nakal' kepada platform online ini tidak sembarangan, melainkan ada datanya yang telah dihimpun oleh Kominfo selama ini.

Ketika itu, Rudiantara enggan untuk menyebutkannya, namun saat didesak, ia pun mengatakan bahwa Facebook satu di antara tiga yang 'nakal' tersebut.

"Iya, Facebook. Dua lagi? Tahu lah siapa yang besar," ucapnya. Dua perusahaan teknologi yang dimaksud merujuk pada Google dan Youtube serta Telegram. Data tersebut pernah diungkap sebelumnya oleh Kominfo sebelumnya, pada bulan Maret 2018.

Dalam catatan Kominfo yang dipaparkan, terdapat tabel performa dari berbagai layanan Over The Top (OTT) yang terkait pelaporan konten negatif dan seberapa besar penanganannya. Catatan tersebut terhitung sejak tahun 2016 dan 2017.

Platform yang tercantum, mulai dari Facebook dan Instagram, Twitter, Google dan YouTube, Telegram, Line, BBM, Bigo, Live Me, dan MeTube. Sebagai informasi penggabungan Facebook dan Instagram, serta Google dan YouTube ini karena berada dalam satu perusahaan.

"Tahun 2016 dari permintaan Kominfo kepada Facebook dan Instagram ada 501 akun untuk di-suspend dan di-takedown itu dipenuhi 249. Artinya, setengahnya atau 50%. Di 2017, membaik dari 806 yang outstanding 277. Secara keseluruhan, dari 1300 akun bermasalah, yang outstanding atau yang belum di-takedown sampai saat ini 40%," tutur Rudiantara kala itu.

Guna memudahkan membaca tabel OTT Performance ini, R = Requested, F = Fulfilled, OS = Outstanding. Semakin rendah persentase yang diberikan, itu menandakan bahwa platform layanan internet tersebut menangani konten negatif di dalamnya.

Dalam hal ini, Twitter menjadi platform yang paling patuh dibandingkan lainnya yang mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia, meski jumlah pelaporan di media sosial berlogo burung itu paling banyak diantara platform lainnya.***dtc/mpc/bs