Senin, 30 Maret 2026
  • Hubungi Kami
  • Redaksi
MedanPunya.com
Advertisement
  • Home
  • Metro
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Daerah
  • Dunia
  • Olahraga
  • Seleb
  • Tekno
No Result
View All Result
  • Home
  • Metro
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Daerah
  • Dunia
  • Olahraga
  • Seleb
  • Tekno
No Result
View All Result
MedanPunya.com
No Result
View All Result
Home Metro

Dinkes Sumut Temukan 162 Balita Stunting di Medan

Senin, 30 Maret 2026
kanal Metro
2
dibaca
Share on FacebookShare on WhatsappShare on Whatsapp

Medan(MedanPunya) Dinas Kesehatan Sumatera Utara menemukan sebanyak 162 balita yang menderita stunting. Jumlah tersebut didapat setelah dilakukan pemeriksaan terhadap 79.926 balita.

“Stunting dan gizi buruk ini dua hal yang berbeda sebenarnya, walaupun sama-sama masalah gizi. Jadi kalau untuk di Kota Medan, data stunting kita sampaikan bahwasanya per tanggal 10 Februari 2026, itu dilaporkan ada 162 balita yang kondisinya stunting. Nah, data ini bersumber dari aplikasi SiGizi Terpadu kita. Jadi, dari jumlah balita yang diukur sebanyak 79.926, ditemukanlah 162 balita dalam kondisi stunting. Itu khusus untuk di Kota Medan,” jelas Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rijal Lubis, Senin (30/3/2026)

Menurut Hamid, ada dua penyebab adanya stunting. Penyebab langsung nya dapat berupa asupan gizi yang kurang memadai secara gizi dan penyakit menular seperti TBC, diare, dan cacingan.

“Ada penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung itu yang pertama adalah asupan gizi. Bagaimana asupan gizi yang masuk ke balita itu, apakah secara kuantitas atau volumenya kurang, atau secara kualitas atau gizinya yang tidak memadai. Kemudian penyebab langsung yang kedua adalah penyakit menular. Jadi kalau balitanya menderita penyakit menular seperti TBC, diare, atau kecacingan, maka asupan gizi yang masuk itu akan ‘dimakan’ oleh penyakitnya tadi, sehingga balitanya menjadi gizi buruk,” ujarnya.

Untuk penyebab tidak langsung dapat berupa kesalahan dalam pola asuh dan pemberian makan terhadap anak, misalnya pemberian makanan berat untuk bayi yang seharusnya masih ASI ekslusif.

“Pengetahuan atau pola asuh dari orang tua atau pengasuhnya. Misalnya bayi usia 0 sampai 6 bulan yang harusnya hanya mendapat ASI eksklusif, tapi sudah diberikan makanan padat atau makanan berat. Ini kan sebenarnya belum bisa diterima oleh pencernaannya dan bisa merusak sistem pencernaan si bayi,” jelasnya.

Penyebab tidak langsung lainnya dapat berupa faktor ekonomi dan lingkungan. Kurangnya pengetahuan terhadap pola makan yang benar, lingkungan yang kumuh hingga ventilasi rumah yang kurang baik dapat menyebabkan resiko stunting.

“Kemudian faktor ekonomi, keluarga dengan pendapatan rendah tentu berisiko tinggi, meskipun keluarga mampu pun bisa terkena kalau pola asuhnya salah. Lalu faktor lingkungan atau sanitasi, lingkungan yang kumuh, pembuangan sampah yang tidak teratur, ventilasi rumah yang kurang baik, itu memicu munculnya penyakit menular yang akhirnya menyebabkan gizi buruk tadi,” lanjutnya.

Untuk itu, Hamid menjelaskan beberapa program penanganan nya seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) hingga pemetaan untuk memutus rantai penyakit menular.

“Ada program PMT atau Pemberian Makanan Tambahan. Kita dorong setiap Posyandu untuk melaksanakan PMT lokal bagi balita yang terdeteksi bermasalah gizinya. Kita pantau terus berat badan, ingkar lengan atas dan kita berikan tambahan vitamin atau zat gizi lainnya melalui Puskesmas. Kemudian untuk penyakit menular, kita lakukan surveilans atau pemetaan situasi untuk melihat langkah apa yang harus diambil untuk memutus rantai penyakit menular di lingkungan itu,” ujarnya.

Hamid menjelaskan bahwa Dinkes memiliki program untuk menghentikan buang air besar sembarangan. Selain itu memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pola asuh dan gizi yang benar untuk anak.

“Untuk sanitasi, kita ada program Stop BABS atau Buang Air Besar Sembarangan. Kita kerja sama dengan OPD lain seperti Dinas Perkim untuk penyediaan jamban atau WC yang layak bagi warga. Dan yang terakhir tentu sosialisasi dan edukasi ke masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang gizi dan pola asuh anak. Kalau untuk faktor ekonomi, itu mungkin ada di ranah OPD lain ya untuk penanganannya,” tutupnya.***dtc/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Tags: Dinkes Sumutstunting
ShareSendTweet
Berita Sebelumnya

Ketum Badko HMI Sumut Dapat Teror Usai Gelar Diskusi Kasus Andri Yunus

Berita Berikutnya

Eks Pejabat Bank yang Larikan Uang Jemaat Gereja Rp 28 M di Aek Nabara Ditangkap

Related Posts

Metro

Ketum Badko HMI Sumut Dapat Teror Usai Gelar Diskusi Kasus Andri Yunus

Senin, 30 Maret 2026
Metro

Bobby Minta Mudik Gratis Pemprov Sumut Transparan, Tak Boleh Ada Titipan

Senin, 16 Maret 2026
Metro

Emak-emak Kejar lalu Tabrak Penjabret Gelangnya di Medan

Senin, 16 Maret 2026
Metro

Mobil Tabrak Motor dan Pejalan Kaki di Jalan Gatot Subroto Medan, Korban Dilarikan ke Rumah Sakit

Selasa, 10 Maret 2026
Metro

252 Operasional SPPG di Sumut Dihentikan Sementara, Kepala BGN: Anggota Tidak Dapat Insentif

Selasa, 10 Maret 2026
Metro

Bobby Ultimatum Stadion Teladan, Tuan Rumah Piala AFF U-19 Tergantung Kecepatan Renovasi

Selasa, 10 Maret 2026

Dikelola Oleh :

PT. WASPADA BAHANA ERIASAFA

Alamat Redaksi :
Jl. Garu 3 No. 33 Kel. Harjosari-I
Kecamatan Medan Amplas 20147
Telp : 061-785 0458
Email : medanpunyanews@gmail.com

TERBARU

Eks Pejabat Bank yang Larikan Uang Jemaat Gereja Rp 28 M di Aek Nabara Ditangkap

Senin, 30 Maret 2026

Dinkes Sumut Temukan 162 Balita Stunting di Medan

Senin, 30 Maret 2026

Ketum Badko HMI Sumut Dapat Teror Usai Gelar Diskusi Kasus Andri Yunus

Senin, 30 Maret 2026
  • Pedoman Media Cyber
  • Disclaimer
  • Hubungi Kami
  • Redaksi
  • Sitemap

Copyright © 2020 medanpunya.com All Right Reserved | Dari Medan Kemana-mana

No Result
View All Result
  • Home
  • Metro
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Daerah
  • Dunia
  • Olahraga
  • Seleb
  • Tekno

Copyright © 2020 medanpunya.com All Right Reserved | Dari Medan Kemana-mana