Kim Jong Un Disebut Takut Bernasib seperti Maduro, Khawatir Digulingkan AS

Seoul(MedanPunya) Operasi Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) yang berhasil menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bulan ini disebut memicu kekhawatiran besar di Pyongyang.

Seorang mantan diplomat Korea Utara menilai peristiwa itu membuat Kim Jong Un merasa dirinya juga rentan terhadap operasi “pemenggalan” kekuasaan.

Wawancara dengan AFP mengungkap kepanikan yang diyakini muncul di lingkaran kepemimpinan Korea Utara.

Lee Il-kyu, yang menjabat sebagai penasihat politik Korea Utara di Kuba dari 2019 hingga 2023, mengatakan, operasi cepat Washington di Caracas adalah skenario terburuk bagi pemimpin lamanya.

“Kim pasti merasa bahwa operasi yang disebut ‘pemenggalan’ itu sebenarnya mungkin dilakukan,” kata Lee, yang kini bekerja di lembaga pemikir yang didukung negara di Seoul.

Selama ini, kepemimpinan Korea Utara menuduh Washington berusaha menyingkirkan rezimnya dan menyatakan bahwa program nuklir serta misil mereka diperlukan sebagai penangkal terhadap dugaan upaya pergantian rezim oleh AS.

Namun menurut Lee, penggulingan Maduro kini akan memicu kepanikan di kalangan elite keamanan Korea Utara.

Kim akan “merombak seluruh sistem terkait keamanan pribadinya dan langkah-langkah penanggulangan jika terjadi serangan terhadap dirinya.”

Dari posnya di Havana—sekutu utama rezim sosialis Maduro—Lee bertugas mempromosikan kepentingan negara bersenjata nuklir itu di Amerika Latin.

Ia memainkan peran penting dalam negosiasi tingkat tinggi, termasuk mengamankan pembebasan kapal Korea Utara yang ditahan di Panama pada 2013, tugas yang membuatnya menerima penghargaan langsung dari Kim Jong Un.

Salah satu misinya yang terakhir adalah upaya yang akhirnya gagal untuk mencegah Kuba menjalin hubungan diplomatik dengan Seoul.

Namun, rasa frustrasi mendalam terhadap sistem membuatnya menjadi salah satu diplomat berpangkat tertinggi yang membelot dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya sudah muak,” katanya.

Ia mengatakan, penolakan kesempatan karier setelah menolak menyuap atasannya menjadi titik terakhir yang membuatnya memutuskan pergi.

Pelariannya nyaris gagal. Dalam momen hidup dan mati bagi keluarganya, Lee bersama istri dan putrinya sempat terjebak di bandara sebuah negara Amerika Tengah yang namanya tidak ingin ia sebutkan.

Meski sudah menyatakan niat membelot, petugas bandara bersikeras ia harus naik pesawat menuju Venezuela, yang hampir pasti akan membuatnya dikirim kembali ke Kuba.

Otoritas Kuba kemudian berkewajiban menyerahkannya ke Korea Utara—yang menurutnya sama dengan hukuman mati.

“Saya berjuang secara fisik dalam keputusasaan, mencoba menyelamatkan keluarga saya. Tapi tidak berhasil,” tuturnya.

Permohonannya akhirnya diterima ketika seorang diplomat Korea Selatan datang dan memberi tahu petugas bahwa Lee dan keluarganya kini berada di bawah perlindungan Seoul.

“Pada saat itu, semua petugas menghilang,” katanya.

“Jika melihat ke belakang, itu adalah momen yang menunjukkan kekuatan nasional Korea Selatan.”***kps/mpc/bs

 

Berikan Komentar:
Exit mobile version