Pyongyang(MedanPunya) Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan bahwa negaranya bisa “rukun dengan baik” bersama Amerika Serikat, asalkan Washington mengakui status nuklir Pyongyang.
Namun di saat yang sama, ia menegaskan tidak ada ruang bagi perbaikan hubungan dengan Korea Selatan.
Pernyataan itu disampaikan saat kongres penting Partai Buruh Korea Utara yang berakhir pada Rabu (25/2).
Media pemerintah melaporkan, Kim secara langsung mengirimkan pesan kepada Amerika Serikat di tengah spekulasi kemungkinan pertemuan dengan Presiden AS.
Spekulasi menguat bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dapat mengupayakan pertemuan dengan Kim ketika berkunjung ke China akhir tahun ini.
Dalam pidatonya yang dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kim menegaskan bahwa hubungan baik dengan Washington hanya mungkin terjadi bila AS mengubah sikapnya terhadap Korut.
“Jika Washington ‘menghormati status (nuklir) negara kami saat ini sebagaimana tercantum dalam Konstitusi… dan mencabut kebijakan bermusuhannya… tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa rukun dengan baik dengan Amerika Serikat’,” ujar Kim.
Pernyataan itu memperjelas posisi Pyongyang yang menuntut pengakuan sebagai negara bersenjata nuklir, sebuah tuntutan yang selama ini menjadi ganjalan utama dalam diplomasi antara kedua negara.
Trump sendiri sebelumnya meningkatkan pendekatan terhadap Kim saat tur Asia tahun lalu, dengan mengatakan bahwa ia “100 persen” terbuka untuk pertemuan.
Ia bahkan menyimpang dari kebijakan lama AS dengan mengakui bahwa Korea Utara “semacam kekuatan nuklir.”
Pertemuan baru antara Trump dan Kim akan menjadi trobosan besar setelah kebuntuan diplomatik bertahun-tahun.
Pada KTT di Hanoi tahun 2019, pembicaraan keduanya runtuh karena gagal mencapai kesepakatan mengenai pencabutan sanksi dan konsesi nuklir yang harus diberikan Korea Utara sebagai imbalannya.
Berbeda dengan nada yang relatif terbuka kepada AS, Kim menyampaikan sikap jauh lebih keras terhadap Seoul.
Korea Utara, kata Kim, “sama sekali tidak memiliki urusan untuk berhubungan dengan Korea Selatan, entitas paling bermusuhan, dan akan secara permanen mengecualikan Korea Selatan dari kategori sesama bangsa.”
Ia juga menambahkan, “Selama Korea Selatan tidak dapat keluar dari kondisi geopolitik yang memiliki perbatasan dengan kami, satu-satunya cara untuk hidup aman adalah menyerahkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kami dan membiarkan kami sendiri.”
Menurut analis Yang Moo-jin, mantan presiden University of North Korean Studies, pernyataan terbaru Korut “mengisyaratkan niat untuk menjalin hubungan dengan AS secara independen, tanpa melalui Korea Selatan.”
Ia juga menilai Kim memperjelas bahwa dirinya akan “menolak setiap negosiasi yang didasarkan pada denuklirisasi”.
Program nuklir Korea Utara selama puluhan tahun menjadi prioritas utama negara itu, bahkan ketika persediaan pangan menipis dan kelaparan melanda.
Sanksi berat, tekanan diplomatik berkepanjangan, hingga pertemuan tingkat tinggi belum berhasil membuat Pyongyang menyerahkan persenjataan nuklirnya.
Penutupan kongres Partai Buruh ditandai dengan parade militer besar-besaran. Acara yang digelar lima tahun sekali itu menjadi momen langka untuk melihat arah kebijakan negara yang sangat tertutup tersebut.
Dalam parade tersebut, berbagai unit militer ambil bagian, termasuk pasukan yang bertempur di Ukraina dan tentara yang ditempatkan di dekat perbatasan antar-Korea.
Sebelumnya, Kim juga tampak berdampingan dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu—sebuah simbol dukungan dari dua sekutu kuatnya.
Pyongyang diketahui semakin dekat dengan Moskwa, bahkan mengirim ribuan tentara untuk membantu perang Rusia di Ukraina.
Dalam pidato penutupnya, Kim kembali mengeluarkan peringatan keras. “Militer kami akan segera meluncurkan serangan balasan sengit terhadap setiap tindakan militer bermusuhan yang dilakukan oleh kekuatan mana pun yang melanggar kedaulatan… negara kami,” tegasnya.***kps/mpc/bs









