Brussels(MedanPunya) Negara-negara anggota NATO melontarkan kritik keras terhadap rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz.
Langkah tersebut diambil setelah pembicaraan gencatan senjata dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan pada akhir pekan lalu.
Berlawanan dengan klaim Trump bahwa negara lain akan ikut terlibat, sekutu-sekutu utama justru menegaskan tidak akan mendukung kebijakan tersebut.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, secara tegas menyatakan bahwa negaranya tidak mendukung langkah tersebut.
“Kami tidak mendukung blokade ini,” ujarnya.
“Menurut saya sangat penting bahwa selat itu dibuka kembali sepenuhnya, dan itulah yang telah menjadi fokus upaya kami dalam beberapa minggu terakhir, dan akan terus kami lakukan.”
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan juga menyerukan agar Selat Hormuz dibuka kembali melalui jalur diplomatik.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menyebut keputusan Trump untuk memblokade kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran dapat menjerumuskan ke dalam bahaya yang lebih besar.
“Ini hanyalah satu lagi episode dalam spiral penurunan yang menyeret kita semua,” kata Robles.
Pemerintah Spanyol, bersama Perdana Menteri Pedro Sanchez, bahkan menolak melibatkan aset militer mereka dalam konflik tersebut.
Starmer menambahkan bahwa penutupan selat tersebut “sangat merusak” dan Inggris bersama Perancis akan menggelar pertemuan untuk menyusun rencana multinasional independen guna melindungi pelayaran internasional setelah konflik berakhir.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukan Amerika “tidak akan menghambat kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas ke dan dari pelabuhan non-Iran di Selat Hormuz.”
Menurut laporan Asia Times, Selasa (14/4), pernyataan ini dinilai sebagai langkah mundur dari pernyataan awal Trump yang mengancam akan memberlakukan “blokade total.”
Namun, Trump tetap mengulang ancamannya dalam wawancara dengan Fox News. Ia bahkan menargetkan kapal-kapal yang pernah membayar biaya kepada Iran untuk melintas, dengan menuduh Teheran melakukan “pemerasan.”
Ketegangan ini meningkat setelah negosiator Iran menuduh Wakil Presiden JD Vance tidak beritikad baik dalam pembicaraan gencatan senjata, sementara Vance menilai Iran tidak akan mematuhi tuntutan AS terkait program nuklirnya.
Blokade ini langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent naik 7,7 persen menjadi 102,52 dollar AS (sekitar Rp 1,7 juta) per barrel, sementara minyak mentah AS melonjak hampir 8 persen ke 104,02 dollar AS per barrel. Kontrak gas grosir Inggris untuk Mei juga naik 11,7 persen.
Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata dua pekan sempat menekan harga energi di bawah 100 dollar AS per barrel. Namun, ancaman baru dari Trump kembali memicu lonjakan harga.***kps/mpc/bs
