Davos(MedanPunya) Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menegaskan, satu-satunya cara mencegah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencaplok Greenland adalah melalui pendekatan diplomasi yang matang.
Pernyataan itu disampaikan Rutte di sela-sela World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (21/1).
“Saya melihat memang ada ketegangan saat ini, itu tidak diragukan lagi,” kata Rutte.
Dia pun turut menegaskan sikapnya untuk tidak berkomentar secara terbuka mengenai substansi sengketa tersebut.
“Sekali lagi, saya tidak akan mengomentari hal itu, tetapi saya dapat meyakinkan bahwa satu-satunya cara untuk menanganinya pada akhirnya adalah melalui diplomasi yang penuh pertimbangan,” ujar Rutte.
Dia juga mengungkapkan bahwa dirinya aktif terlibat dalam pembahasan isu Greenland secara tertutup, meski enggan membeberkan detailnya kepada publik.
“Dapat dipastikan bahwa saya sedang menangani isu ini di balik layar, tetapi saya tidak bisa melakukannya di depan publik,” kata Rutte.
Ketegangan mengenai Greenland mencuat setelah Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar AS mengambil alih wilayah tersebut dari Denmark, sebuah langkah yang memicu kegelisahan di dalam NATO.
“Ketika berbicara soal Arktik, saya pikir Presiden Trump benar, dan para pemimpin NATO lainnya juga benar. Kita perlu mempertahankan Arktik,” ujar Rutte.
Di sisi lain, Rutte menepis kekhawatiran bahwa krisis Greenland dapat memicu runtuhnya NATO yang telah berdiri selama 76 tahun.
“NATO itu krusial, bukan hanya untuk pertahanan Eropa, tetapi juga untuk pertahanan AS,” kata Rutte.
Menurutnya, keamanan AS tidak dapat dilepaskan dari stabilitas kawasan lain yang menjadi perhatian NATO.
Setelah menggelar pembicaraan dengan NATO, Trump mengumumkan adanya kerangka kerja kesepakatan permanen terkait Greenland.
Perubahan sikap Trump terjadi setelah melontarkan berbagai ancaman keras, termasuk ancaman tarif terhadap delapan negara Eropa mulai 1 Februari, apabila Greenland tidak diserahkan kepada AS.
Dalam pertemuan dengan Rutte di sela WEF, Trump menarik ancaman tarif tersebut.
Dia bahkan menyebut adanya peluang kesepakatan di masa depan terkait Greenland dan bahkan seluruh kawasan Arktik.
Trump menegaskan, kesepakatan itu memberikan Washington semua yang mereka inginkan. Dia menambahkan, kesepakatan tersebut akan berlaku selamanya.
Akan tetapi, baik dirinya maupun Rutte tidak mengungkapkan secara rinci apa saja yang telah disepakati dalam pertemuan tersebut.
Sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan mengatakan, AS dan Denmark akan menegosiasikan ulang perjanjian pertahanan Greenland yang ditandatangani pada 1951. Perjanjian lama tersebut terakhir kali diperbarui pada 2004.
Dalam perjanjian itu, AS diberi keleluasaan besar untuk meningkatkan penempatan pasukan, selama memberi pemberitahuan terlebih dahulu kepada otoritas Denmark dan Greenland.
Saat ini, AS memiliki satu pangkalan militer di Greenland, yakni Pituffik Space Base di wilayah barat laut pulau itu, yang berperan penting dalam sistem pertahanan rudal AS.
Selain soal pertahanan, Rutte menyebut salah satu alur kerja yang muncul dari pembicaraan itu adalah upaya bersama negara-negara NATO, termasuk tujuh anggotanya di kawasan Arktik, untuk memastikan wilayah tersebut tetap aman.
Dia berujar, para sekutu membahas cara secara kolektif dan memastikan bahwa Arktik tetap aman di mana Rusia serta China tetap berada di luar kawasan.***kps/mpc/bs









