Jakarta(MedanPunya) Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing (capital inflow) mulai mengalir ke pasar keuangan domestik setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) sejak akhir Mei hingga Juni 2026.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan, masuknya modal asing menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.
Sejak awal tahun 2026, BI menempuh kebijakan pengetatan moneter melalui kenaikan BI Rate secara bertahap.
Setelah mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sejak awal tahun hingga April, bank sentral mulai menaikkan BI Rate pada Mei sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Kebijakan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kenaikan masing-masing 25 basis poin pada dua RDG berikutnya di bulan Juni 2026, sehingga BI Rate mencapai level 5,75 persen.
Dengan demikian, sejak akhir Mei hingga Juni 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin.
Destry mengatakan, salah satu tujuan kebijakan tersebut adalah menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik untuk menopang stabilitas nilai tukar rupiah.
“Untuk menjaga nilai tukar rupiah, yang kami butuhkan saat ini adalah masuknya capital inflow dari investor asing,” ujar Destry dalam media briefing, Jumat (31/7).
Menurut Destry, kenaikan suku bunga acuan mendorong terjadinya repricing terhadap berbagai instrumen keuangan domestik, terutama Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sehingga kembali menarik bagi investor.
“Setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak akhir Mei hingga Juni, terjadi repricing terhadap aset-aset domestik seperti SBN dan SRBI,” kata Destry.
Ia mengungkapkan, dampak dari penyesuaian tersebut mulai terlihat dari derasnya aliran dana asing yang masuk ke pasar domestik.
Per awal pekan ini, capital inflow ke instrumen SBN dan SRBI tercatat mencapai sekitar Rp 195 triliun atau lebih dari 10 miliar dollar AS.
“Per awal minggu ini kami telah melihat capital inflow ke SBN dan SRBI mencapai sekitar Rp 195 triliun, atau lebih dari 10 miliar dollar AS. Angka tersebut cukup besar,” ujar Destry.
Menurut Destry, masuknya modal asing tersebut menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. Dana yang masuk tidak hanya menambah cadangan devisa, tetapi juga meningkatkan likuiditas di pasar keuangan domestik.
“Bagi kami, masuknya dana asing sangat penting karena memperkuat cadangan devisa sekaligus menambah likuiditas di pasar sehingga stabilitas rupiah dapat terus terjaga,” kata dia.***kps/mpc/bs
