Abu Dhabi(MedanPunya) Salah satu kilang minyak terbesar di dunia yang berlokasi di Uni Emirat Arab (UEA), Kilang Ruwais, dilaporkan berhenti beroperasi di tengah kecamuk perang Iran.
Langkah tersebut diambil sebagai langkah pencegahan setelah terjadi serangan drone di wilayah sekitarnya.
Kantor Media Abu Dhabi melaporkan bahwa serangan drone telah memicu kebakaran di Ruwais Industrial City, Abu Dhabi.
Kilang Ruwais, yang dikelola oleh perusahaan minyak milik negara Adnoc, merupakan kilang lokasi tunggal terbesar keempat di dunia.
Seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan menyebutkan, operasional dihentikan sepenuhnya demi keamanan.
Di sisi lain, pihak berwenang belum mengonfirmasi apakah fasilitas tersebut terkena serangan secara langsung.
Kepanikan sempat terjadi di lokasi kejadian sebagaimana diceritakan oleh seorang pengemudi di kompleks industri tersebut.
Dia mengaku sedang menjemput staf yang diperintahkan untuk segera melakukan evakuasi.
“Tepat saat kami hendak pergi, kami melihat dua kobaran api lagi muncul dari kompleks tersebut, disertai suara keras seperti ledakan,” ungkap pengemudi tersebut.
CEO dan Presiden Aramco Amin H Nasser menegaskan bahwa perang yang tengah berlangsung dapat menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan pada pasar minyak.
Dia juga mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali.
Jalur tersebut sangat vital karena mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, namun kini tertutup akibat konflik.
Dalam keterangannya, Nasser menyebutkan bahwa gangguan ini telah memicu reaksi berantai yang parah.
Tidak hanya pada sektor pelayaran dan asuransi, penutupan Selat Hormuz juga memberikan efek domino yang drastis pada industri penerbangan, pertanian, hingga otomotif.
Dia menambahkan bahwa krisis kali ini merupakan yang terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan Teluk, melampaui berbagai gangguan yang pernah terjadi di masa lalu.
Teheran diduga tengah berupaya melumpuhkan kilang-kilang utama di wilayah Teluk untuk menekan ekonomi global.
Serangan Iran dilaporkan telah menyasar berbagai instalasi energi, termasuk fasilitas raksasa Ras Tanura milik Aramco di Arab Saudi yang merupakan pilar sektor energi kerajaan tersebut.
Robert Mogielnicki, seorang pakar dari Arab Gulf States Institute, menilai bahwa sektor energi Teluk sedang dihantam dari berbagai arah.
Selain fasilitas energi yang menjadi target, kemampuan ekspor melalui selat juga terhambat sementara kapasitas penyimpanan mulai penuh.
Hal ini menyebabkan harga minyak dunia bergejolak hebat, di mana harga sempat melonjak hingga 30 persen sebelum akhirnya turun kembali setelah adanya pernyataan dari Presiden AS Donald Trump.
Konflik ini juga memaksa perusahaan besar lainnya mengambil langkah darurat.
QatarEnergy telah menghentikan produksi dan menyatakan status force majeure, sebuah langkah yang juga diikuti oleh produsen energi di Kuwait.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi dari kedua belah pihak merupakan preseden berbahaya yang akan menimbulkan dampak ke seluruh penjuru dunia.***kps/mpc/bs
