New York(MedanPunya) Harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Senin (30/3) waktu setempat atau Selasa (31/3) pagi WIB, dengan Brent bersiap mencatat kenaikan bulanan tertinggi dalam sejarah.
Sementara minyak mentah Amerika Serikat (AS) menembus level 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 2022.
Harga minyak Brent naik 21 sen atau 0,2 persen menjadi 112,78 dollar AS per barrel, setelah sempat melonjak lebih dari 4 dollar AS ke level tertinggi harian 116,89 dollar AS.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,24 dollar AS atau 3,3 persen ke posisi 102,88 dollar AS per barrel, tertinggi sejak Juli 2022.
Kenaikan harga tersebut dipicu meluasnya konflik di Timur Tengah, setelah kelompok Houthi di Yaman memperluas perang Iran dengan meluncurkan serangan pertamanya terhadap Israel.
Militer Israel menyatakan telah mencegat dua drone yang diluncurkan dari Yaman pada Senin, dua hari setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menembakkan rudal ke Israel untuk pertama kalinya sejak perang dimulai.
Konflik telah meluas di Timur Tengah sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, memicu kekhawatiran atas jalur pelayaran di sekitar Semenanjung Arab dan Laut Merah.
Meski demikian, hingga kini kelompok Houthi belum menargetkan jalur pelayaran di Laut Merah yang menangani sekitar 15 persen lalu lintas maritim global.
“Jika Houthi menyerang pengiriman dan menutup pintu masuk selatan Laut Merah, hal itu dapat mendorong harga naik sebesar 5 hingga 10 dollar AS per barrel,” ujar Direktur energi berjangka Mizuho, Robert Yawger.
Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur strategis yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global, telah mendorong lonjakan harga minyak sekitar 57 persen sepanjang bulan ini.
Lonjakan menjadi kenaikan bulanan tertajam sejak 1988, melampaui lonjakan saat Perang Teluk 1990.
Sementara itu, harga minyak mentah AS telah naik sekitar 53 persen sepanjang bulan ini, menjadi kenaikan terbesar sejak Mei 2020.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa fasilitas energi dan sumur minyak Iran akan “dihancurkan” jika negara tersebut tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menilai proposal damai AS tidak realistis dan meluncurkan gelombang rudal ke Israel.
Sebelumnya, Trump menyatakan akan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April, sembari menyebut pembicaraan antara kedua negara berlangsung secara langsung maupun tidak langsung.
“Perpanjangan batas waktu hingga 6 April, ketika AS berpotensi melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran, tidak memberikan efek menenangkan. Pasar kini menuntut tanda-tanda konkret de-eskalasi, bukan sekadar retorika,” bunyi catatan analis dari SEB Research.
Untuk meredakan kekhawatiran investor, para pemimpin keuangan negara-negara G7 menyatakan siap mengambil “semua langkah yang diperlukan” guna menjaga stabilitas pasar energi dan membatasi dampak ekonomi yang lebih luas.***kps/mpc/bs
