Washington DC(MedanPunya) Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku tidak memahami aturan kartu merah dalam sepak bola.
Namun, ia tetap menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan terhadap hukuman penyerang Timnas AS, Folarin Balogun, di Piala Dunia.
Pengakuan itu muncul setelah FIFA membatalkan skorsing satu pertandingan Balogun, yang memicu tudingan bahwa Piala Dunia 2026 berpihak kepada tuan rumah.
Balogun sebelumnya mendapat kartu merah saat AS mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0 pada 1 Juli 2026.
Ia dianggap menginjak pergelangan kaki bek Bosnia, Tarik Muharemovic, sehingga seharusnya menjalani skorsing otomatis satu pertandingan.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin (6/7, Trump mengonfirmasi bahwa dirinya menelepon langsung Presiden FIFA Gianni Infantino setelah insiden tersebut.
“Saya meminta FIFA melakukan peninjauan,” kata Trump, seraya menegaskan dirinya tidak ada hubungannya dengan keputusan akhir FIFA yang kemudian membatalkan skorsing Balogun.
Saat ditanya mengenai pemahamannya terhadap pelanggaran tersebut, Trump mengaku sama sekali tidak memahami aturan kartu merah ketika menelepon Infantino.
“Saya bahkan tidak tahu apa itu kartu merah,” ujarnya.
Trump menilai insiden itu hanyalah benturan antara dua atlet yang saling bertabrakan dan terlilit, bukan pelanggaran yang layak berujung kartu merah.
Menurut laporan International Business Times, seorang pejabat AS yang mengetahui percakapan telepon tersebut mengatakan, Trump memang ingin memahami apa arti kartu merah dan bagaimana prosedur pengambilan keputusan di FIFA. Pejabat itu juga menyebut Trump bukan penggemar sepak bola.
Infantino juga sempat mengatakan kepadanya bahwa ia tidak bisa ikut campur karena kasus tersebut berada di bawah kewenangan badan disipliner FIFA yang bersifat independen.
Laporan NBC News yang mengutip dua sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mulai menghubungi FIFA tidak lama setelah Balogun mendapat kartu merah.
Saat itu ia sedang duduk berdampingan dengan Infantino ketika menyaksikan pertandingan Bosnia-Herzegovina.
Kepala Satuan Tugas FIFA Gedung Putih, Andrew Giuliani, kemudian memberi pengarahan kepada Trump. Hal itu memicu diskusi internal mengenai kemungkinan tim hukum US Soccer menantang kartu merah tersebut.
FIFA menyatakan, pencabutan skorsing dilakukan oleh badan yudisial yang independen dan otonom.
Infantino mengatakan, dirinya tidak selalu sepakat dengan setiap keputusan Komite Disiplin FIFA, tetapi tetap menghormati kewenangan badan tersebut.
Skorsing Balogun dibatalkan melalui Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang memungkinkan hukuman ditangguhkan dengan masa percobaan. Balogun akhirnya dijatuhi masa percobaan selama satu tahun sehingga tetap bisa dimainkan melawan Belgia pada babak 16 besar.
Namun, Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) bersama sejumlah analis hukum menilai penggunaan Pasal 27 bertentangan dengan Pasal 66.4 dan Pasal 10.5 Regulasi Piala Dunia FIFA yang mengatur bahwa kartu merah langsung berujung skorsing otomatis tanpa hak banding.
FIFA sebelumnya juga menggunakan pasal yang sama untuk mengurangi hukuman Cristiano Ronaldo dari tiga pertandingan menjadi satu laga pada turnamen ini.
RFBA sempat diberi kesempatan mengajukan keberatan atas keputusan yang mengizinkan Balogun kembali bermain. Namun, Komite Banding FIFA menolak keberatan tersebut.
FIFA juga menegaskan bahwa Neil Eggleston, warga AS yang menjabat ketua Komite Banding FIFA, tidak terlibat dalam keputusan tersebut.
UEFA mengecam keputusan FIFA sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan. Organisasi itu menilai FIFA telah melewati garis merah dengan mengabaikan aturan yang dibuatnya sendiri.
Partai Sosialis Belgia juga ikut mengecam, dengan menyatakan bahwa Piala Dunia kehilangan kredibilitas ketika pengaruh politik dapat membatalkan sanksi wasit. Mereka bahkan menuduh FIFA mengubah aturan demi menyenangkan Trump.
Kontroversi semakin memanas setelah Trump mengunggah pernyataan di Truth Social pada Minggu (5/7/2026) yang berisi ucapan terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dengan membatalkan apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan besar.***kps/mpc/bs









